Kajian Pustaka Modul

Posted on

Kajian Pustaka Modul

a. Pengertian Modul
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar (Depdiknas, 2008). Bahan ajar dapat diartikan sebagai bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara lengkap dan sistematis berdasarkan prinsip pembelajaran yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Bahan ajar yang bersifat sistematis artinya disusun secara urut sehingga memudahkan siswa untuk belajar dan juga bersifat spesifik karena isi bahan ajar dirancang untuk mencapai kompetensi tertentu (Sungkono, 2003).
Modul ajar merupakan paket belajar mandiri meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar (Mulyasa, 2006). Modul ajar menyajikan kegiatan yang melibatkan pengalaman belajar siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga tercapai tujuan belajar yang efektif dan efisien. Modul juga salah satu jenis bahan ajar yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar yang dirumuskan secara khusus dan jelas (Nasution, 2011).
Modul disimpulkan menjadi paket belajar yang berisi serangkaian kegiatan belajar yang disusun agar siswa dapat mencapai tujuan belajarnya  Modul berdasarkan pengertiannya memiliki empat ciri diantaranya yaitu, 1) modul merupakan unit bahan ajar yang dirancang secara khusus sehingga dapat dipelajari siswa secara mandiri; 2) modul merupakan program pembelajaran yang utuh disusun secara sistematis mengacu pada tujuan atau kompetensi yang jelas dan terstruktur; 3) modul membuat tujuan pembelajaran, bahan dan kegiatan untuk mencapai tujuan serta alat evaluasinya; 4) modul merupakan bahan ajar mandiri yang dapat mengatasi kesulitan belajar siswa ketika di kelas (Sukiman, 2012).

b. Fungsi Modul
Modul sebagai bahan ajar memiliki fungsi sebagai media belajar mandiri siswa, pengganti fungsi pendidik, alat evaluasi, dan bahan rujukan bagi siswa. Modul sebagai bahan ajar mandiri maksudnya adalah sebagai peningkat kemampuan siswa untuk belajar mandiri tanpa terganting kehadiran guru karena didalamnya telah terangkum berbagai kegiatan yang terarah dan terstruktur. Modul sebagai pengganti pendidik maksudnya penjelasan materi dan kegiatan modul di desain dengan memperhatikan pengetahuan siswa yang dikemas dengan bahasa yang baik dan mudah dipahami sehingga penggunaan modul dapat berfungsi sebagai pengganti fasilitator pembelajaran. Modul sebagai alat evaluasi maksudnya di dalam odul juga terangkum berbagai materi yang harus dipelajari siswa (Prastowo, 2012).

c. Karakteristik Modul
Karakteristik modul ajar: 1) Pembelajaran mandiri (self instructional) yang artinya modul memuat unit materi pelajaran yang spesifik sehingga memotivasi siswa untuk belajar mandiri dan tidak bergantung pada orang lain; 2) Kesatuan isi (self contained) yang berarti modul memuat unit materi pelajaran yang dikemas secara utuh sehingga mempermudah siswa untuk mempelajari materi pelajaran secara tuntas; 3) Berdiri sendiri (stand alone) yang artinya modul tidak bergantung pada media lainnya; 4) Adaptif (adaptive) yang artinya modul memiliki daya penyesuaian yang tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 5) Bersahabat dengan pengguna (user friendly) yang artinya modul memuat petunjuk dan informasi yang diberikan bersifat mempermudah belajar siswa atau pemakainya (Daryanto, 2013).
Mulyasa (2006) menyatakan bahwa karaktreristik modul ajar yaitu: 1) Modul ajar memberikan informasi dan memberikan petunjuk pelaksanaan yang jelas berkaitan dengan hal-hal yang akan dilakukan siswa; 2) Modul ajar merupakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karateristik siswa; 3) Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien; 4) Materi ajar disajikan secara logis dan sistematis, sehingga siswa mengetahui kapan waktu memulai dan mengakhiri menggunakan modul; 5) Modul mempunyai mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar siswa. Karakteristik modul ajar menurut Nurma & Endang (2010): 1) Modul ajar berisikan pengetahuan yang disusun terstruktursehingga menggiring partisipasi siswa secara aktif; 2) Modul ajar mengukur dan menilai berdasarkan penguasaan materi oleh siswa; 3) Modul memuat ajar semua unsur bahan pelajaran dan semua tugas pelajaran; 4) Modul ajar memberikan peluang bagi perbedaan antar siswa untuk berkembang sesuai karakteristik masing-masing siswa; 5) Modul ajar mengarahkan pada suatu tujuan belajar tuntas.
Karakteristik modul menunjukan bahwa secara umum modul memiliki struktur yang spesifik  sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuan pembelajarannya. Modul disesuaikan pula dengan perkembangan ilmu dan tingkat berpikir siswa sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Materi yang disajikan dalam modul tercermin dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) sesuai dengan yang tercantum dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Modul ajar disusun dengan memperhatikan karakteristik siswa dan sistematika penyusunannya, agar modul sesuai dengan karakteristik siswa dan mudah digunakan oleh siswa.

d. Komponen-Komponen Modul
Modul memiliki komponen-komponen yang tersedia yaitu lembar kegiatan siswa, lembar kerja, kunci lembar kerja, lembar soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban. Sungkono (2003) mengemukakan komponen yang ada pada modul yaitu : 1) tinjauan mata pelajaran, merupakan paparan mengenai keseluruhan pokok-pokok isi yang mencakup kompetensi dasar, bahan pendukung, dan petunjuk belajar; 2) Pendahuluan, merupakan pembukaan belajar suatu modul; 3) Kegiatan belajar, memuat uraian rinci tentang isi pelajaran yang disertai contoh konkrit yang berupa konsep, prinsip, fakta/ data dan masalah; 4) Latihan, terdiri dari berbagai bentuk kegiatan belajar yang harus dilakukan siswa ; 5) Jawaban kunci latihan; 6) Rangkuman, merupakan inti dari uraian materi yang disajikan; 7) Tes formatif, merupakan lembar evaluasi yang berupa tes soal; 8) Kunci jawaban tes formatif (Mulyasa, 2005).
Budiono (2006) berpendapat bahwa komponen-komponen modul disusun menjadi sebuah modul dengan prinsip penyusunan : 1) bahasa modul menarik dan merangsang siswa untuk berpikir; 2) informasi tentang materi pelajaran disertai dengan penjelasan gambar; 3) menggunakan multimedia yang relevan dengan tujuan; 4) modul disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa dan memberikan kesempatan siswa untuk menyelesaikan masalah.

e. Langkah-langkah Penyusunan Modul
Tahapan penyusunan modul dikembangkan mengacu pada model ADDIE yang dikembangkan oleh Dick and Carry untuk merancang sistem pembelajaran (Mulyatiningsih, 2012). Model pengembangan ADDIE terdiri dari lima langkah pokok, yaitu yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation (Pribadi, 2009). Tahapan penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar 2.1. dibawah ini:

Gambar 2.1. Model Pengembangan ADDIE
1) Analisis
Kegiatan utama pada tahap ini adalah menganalisis pengembangan media pembelajaran baru dan menganalisis kelayakan dan syarat-syarat pengembangan media pembelajaran baru. Pengembangan media pembelajaran baru diawali oleh adanya masalah dalam media pembelajaran yang sudah diterapkan.
2) Design
Kegiatan ini merupakan proses sistematik yang dimulai dari menetapkan tujuan belajar, merancang skenario atau kegiatan belajar mengajar, merancang perangkat pembelajaran, merancang materi pembelajaran dan alat evaluasi hasil belajar. Rancangan media pembelajaran ini masih bersifat konseptual dan akan mendasari proses pengembangan berikutnya.
3) Development
Development dalam model ADDIE berisi kegiatan realisasi rancangan produk. Pada tahap pengembangan, kerangka yang masih konseptual tersebut direalisasikan menjadi produk yang siap diimplementasikan.
4) Implementation
Pada tahapan implementasi media yang telah dikembangkan akan diterapkan pada situasi yang nyata. Setelah penerapan, dilakukan evaluasi awal untuk memberi umpan balik pada penerapan media berikutnya.
5) Evaluation
Evaluasi dilakukan dalam dua bentuk yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilaksanakan pada akhir setiap tahap sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah kegiatan berakhir secara keseluruhan. Revisi dibuat sesuai dengan hasil evaluasi atau kebutuhan yang belum dapat dipenuhi oleh media tersebut.
Sudjana (2007) juga menyatakan bahwa langkah-langkah penyusunan modul yaitu menyusun kerangka modul dan menulis programnya. Menyusun kerangka modul terdiri dari :1) menetapkan dan merumuskan tujuan instruksional umum menjadi khusus; 2) menyusun butir-butir soal evaluasi untuk mengukur pencapaian; 3) mengidentifikasi pokok-pokok materi pelajaran yang sesuai dengan tujuan khusus; 4) menyusun pokok-pokok materi dengan urutan yang logis; 5) menyusun langkah-langkah kegiatan belajar siswa; 6) memeriksa langkah-langkah belajar untuk mencapai tujuan; 7)mengidentifikasi alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan belajar dengan modul. Menulis program secara rinci pada modul terdiri dari ; 1) pembuatan petunjuk guru; 2) lembaran kegiatan siswa; 3) lembaran kerja siswa; 4) lembaran jawaban; 5) lembaran tes; 6) lembaran jawaban tes.

f. Kelebihan dan Kekurangan Modul
Pembelajaran menggunakan modul memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan modul ajar: 1) Memfokuskan pada kemampuan individual siswa; 2) Mengontrol hasil belajar siswa melalui penggunaan standar kompetensi yang dicapai siswa; 3) Relevansi kurikulum yang ditunjukkan dengan adanya tujuan dan cara pencapaiannya sehingga siswa mengetahui keterkaitan antara pembelajaran dan hasil yang diperoleh (Mulyasa, 2006). Kelebihan modul ajar pada dasarnya merupakan hasil dari struktur penyusunan modul yang sistematis, terutama pada bagian tujuan pembelajaran, materi ajar yang spesifik dan detail. Struktur dan penguraian materi ajar membantu siswa dan guru mengetahui hasil yang diperoleh setelah mempelajari modul ajar. Kekurangan modul ajar : 1) memerlukan penyusunan yang baik dan keahlian tertentu; 2) memerlukan dukungan pembelajaran yang lain; 3) memiliki kesulitan untuk menentukan proses kelulusan (Mulyasa, 2006). Kekurangan modul pembelajaran dapat diatasi dengan memberikan pengetahuan dan keahlian yang cukup bagi guru untuk menyusun modul ajar serta memberikan informasi dan petunjuk yang cukup bagi siswa.

Daftar Pustaka

Daryanto. (2013). Menyusun Modul Sebagai Bahan Ajar untuk Persiapan Guru Mengajar. Yogyakarta: Gava media.

Depdiknas. (2008). Penulisan Modul. Jakarta : PMPTK

Mulyasa, E. (2005). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Nasution. (2010). Berbagai Pendekatan dalam proses belajar dan mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Sukiman. (2012). Pengembangan Media Pembelajaran. Yogyakarta : Pedajogja

Sungkono. (2003). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta