Mekanisme Kerja Antibodi Monoklonal

22 views

Mekanisme Kerja Antibodi Monoklonal

 

 

Cara kerja antibodi monoklonal adalah untuk menghancurkan sel-sel limfoma non Hodgkin secara khusus dan tidak mengganggu jenis-jenis sel lainnya. Semua sel memiliki penanda protein pada permukaannya, yang dikenal sebagai antigen. Antibodi monoklonal dirancang di laboratorium untuk secara spesifik mengenali penanda protein tertentu di permukaan sel kanker. Antibodi monoklonal kemudian berikatan dengan protein ini. Hal ini memicu sel untuk menghancurkan diri sendiri atau memberi tanda pada siinduk kekebalan tubuh untuk menyerang dan membunuh sel kanker.

Menurut Hanafi dan Syahruddin (2007), mekanisme kerja antibodi monoklonal melalui kombinasi untuk meningkatkan efek sitotoksik sel tumor. Mekanisme komponen sistem imun ialahantibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC), complement dependent cytotoxicity (CDC), mengubah signal transduksi sel tumor atau menghilangkan sel permukaan antigen. Antibodi dapat digunakan sebagai target muatan (radioisotop, obat atau toksin) untuk membunuh sel tumor atau mengaktivasi prodrug di tumor, antibody directed enzyme prodrug therapy (ADEPT). Antibodi monoclonal secara sinergis digunakan untuk melengkapi mekanisme kerja kemoterapi untuk melawan tumor.

1. ADCC (Antibody dependent cellular cytotoxicity)

ADCC antibodi moloklunal

Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC) terjadi apabila antibody mengikat antigen sel tumor dan antibodi Fc melekat dengan reseptor Fc pada permukaan selimun efektor. Interaksi reseptor Fc berdasarkan kemanjuran antitumor dan sangat penting pada pemilihan suatu antibody monoklonal. Sel efektor yang berperan masih belum jelas tapi diasumsikan sel fagosit mononuklear dan atau natural killer (NK). Struktur Fc domain dimanipulasi untuk menyesuaikan jarak antibodi dan interaksi dengan Fc reseptor. Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC) dapat meningkatkan respons klinis secara langsung menginduksi destruksi tumor melalui presentasi antigen dan menginduksi respons sel T tumor. Antibodi monoklonal berikatan dengan antigen permukaan sel tumor melalui reseptor Fc permukaan sel NK sehingga memicu penglepasan perforin dan granzyme suntuk menghancurkan sel tumor (gambar2a). Sel-sel yang hancur ditangkap antigen presenting cell (APC) lalu dipresentasikan pada sel B sehingga memicu penglepasan antibody kemudian antibody ini akan berikatan dengan target antigen (gambar2b-d). Selcytotoxic T lymphocytes (CTLs) dapat mengenali dan membunuh sel target antigen (gambar 2d).

 

 

2. CDC

CDC antibodi moloklunal

Pengikatan antibody monoclonal dengan antigen permukaan sel akan mengawali kaskade komplement. Complement dependent cytotoxicity (CDC) merupakan suatu metode pembunuh sel tumor yang lain dari antibodi. Imunoglobulin G1 dan G3 sangat efektif pada CDC melalui jalur klasik aktivasi komplemen (gambar3a). Formasi kompleks antigen antibody merupakan komplemen C1q berikatan dengan IgG sehingga memicu komplemen protein lain untuk mengawali penglepasan proteolitik selefektor kemotaktik/agen aktivasi C3a dan C5a (gambar3b). Kaskade komplemen ini diakhiri dengan formasi membrane attack complex (MAC) (gambar 3c) sehingga terbentuk suatu lubang pada sel membran. Membrane attack complex (MAC) memfasilitasi keluar masuknya air dan Na++ yang akan menyababkan sel target lisis (gambar3d).

 

 

3. Perubahan Transduksi Signal

Perubahan transduksi signal moloklunal

Reseptorgrowth factor ialah suatu antigen target tumor, ekspresinya berlebihan pada keganasan.Aktivasi transduksi signal pada kondisi normal akan menginduksi respon mitogenik dan meningkatkan kelangsungan hidup sel, hal ini diikuti dengan ekspresi perkembangan sel tumor yang berlebihan yang juga menyebabkan tumor tidak sentitif terhadap zat kemoterapi. Antibodi monoclonal sangat potensial menormalkan laju perkembangan sel dan membuat sel sensitive terhadap zat sitotoksik dengan menghilangkan signal reseptorini. Target antibodi EGFR merupakan inhibitor yang kuat untuk transduksi signal. Terapi antibody monoclonal memberikan efek penurunan density ekspresi target antigen contohnya penurunan konsentrasi EGFR permukaan sel tumor atau membersihkan ligan seperti VEGF. Pengikatan ligand reseptorgrowth factor memicu dimerisasi dan aktivasi kaskade signal (gambar4a) sehingga terjadi proliferasi sel dan hambatan terhadap zat sitotoksik (gambar4b). Antibodi monoclonal menghambat signal dengan cara menghambat dimerisasi atau mengganggu ikatan ligand (gambar4c).

 

4. ADEPT (Antibodi directed enzyme prodrug therapy)

ADEPT antibodi moloklunal

ADEPT menggunakan antibody monoclonal sebagai penghantar untuk sampai tumor kemudian enzim mengaktifkan prodrug pada tumor, hal ini dapat meningkatkan dosis active drug di dalam tumor. Konjugasi antibody monoclonal dan enzim mengikat antigen permukaan sel tumor (gambar5a) kemudian zat sitotoksik dalam bentuk inaktif prodrug akan mengikat konjugasi antibody monoclonal dan enzim permukaan sel tumor (gambar5b-c) akhirnya inaktivasi prodrug terpecah dan melepaskan active drug di dalam tumor.

 

 

5. Imunodulasi

Beberapa percobaan menunjukkan bahwa antibodi yang langsung melawan cytotoxic T lymphocyte antigen 4 (CTLA 4) terbukti mampu menginduksi regresi imun. Polatoksisitas yang diteliti pada uji klinis memperlihatkan hubungan antara perlekatan CTLA 4 dengan ligand dapat menginduksi respons auto imun, sehingga terlihat pada aktivasi sel T dependent. Gabungan antibody anti CTLA 4 dengan anti bodi monoclonal menginduksi ADCC, kemoterapi sitotoksik atau radio terapi sehingga dapat meningkatkan respons imun terhadap antigen spesifik tumor.

 

6. Penghantaran muatan sitotoksik

Antibodi monoclonal pada terapi kanker akan melawan target sel tumor dengan cara mengikat sel spesifik tumor dan menginduksi respons imun. Antibodi monoclonal telah digunakan secara luas dalam percobaan sebagai zat sitotoksik sel – sel tumor .Modifikasi antibody monoclonal dilakukan dengan tujuan sebagai zat penghantar radioisotop, toksin katalik, obat – obatan, sitokin, enzim atau zat konjugasi aktif lainnya.

 

Moloklunal

Related Post