Contoh Makalah Kultur Jaringan Nanas (Ananas comusus)

Posted on

Berikut Kami sajikan contoh Makalah tentang Kultur Jaringan Nanas (Ananas comusus) yang dapat di download

KULTUR JARINGAN NANAS (Ananas comusus)

Pendahuluan

Latar Belakang

Nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas.  Untuk skala industri, perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama.  Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut.  Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik, yaitu media padat, media cair, atau modifikasi antara keduanya

Tanaman nanas umumnya diperbanyak secara vegetatif (aseksual).  Bagian tanaman nanas yang digunakan untuk perbanyakan seperti tunas akar (ratoon), tunas batang/ anakan (sucker) adalah tunas yang muncul dari bagian batang dibawah permukaan tanah, Tunas tangkai buah (slip) adalah tunas yang muncul dibawah dasar buah. Tunas samping (shoot) adalah tunas yang muncul dari aksilar daun. Mahkota buah (crown) bagian tanaman yang ada diatas buah.  Nanas diperbanyak dengan bagian mahkota buah, tunas batang (anakan), tunas dasar buah, dan stek batang. Untuk perusahaan baru yang akan memulai menanam nanas, biasanya membuat pembibitan nanas sendiri untuk memperoleh bibit dengan cepat dalam jumlah yang banyak. Bahan untuk pembibitan dapat digunakan stek batang dan mahkota buah. Pada prinsipnya setiap buku dari batang nanas dapat tumbuh menjadi tanaman nanas baru.

Buah nanas dapat juga diperbanyak dengan cara kultur jaringan yang memiliki keunggulan antara lain; dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. Kultur jaringan nanas ini menggunakan eksplan berupa batang dengan media yang digunakan adalah MS dengan tambahan zat pengatur tumbuh BAP

Tujuan

Pada praktikum acara Kultur Jaringan Nanas mempunyai tujuan yaitu :

    1. Mengetahui teknik kultur jaringan nanas (Ananas comusus).
    2. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan nanas (Ananas comusus).

Tinjauan Pustaka

Nanas (Ananas comosus (L) Merr. merupakan salah satu komoditas buah tropis yang penting bila dilihat dari kegunaan dan nilai ekonomis serta mempunyai kontribusi 8% dari produksi segar dunia, dan Indonesia merupakan negara penghasil nanas olahan dan segar terbesar ketiga setelah Thailand dan Philipina (Hardiati et al., 2003).

Klasifikasi tanaman nanas adalah:

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Kelas : Angiospermae (berbiji tertutup)

Ordo : Farinosae (Bromeliales)

Famili : Bromiliaceae

Genus : Ananas

Species : Ananas comosus (L) Merr

(Gembong Tjitrosoepomo,2002)

Teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan bahan tanam secara massal dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. Kelebihan teknik tersebut, dapat menghasilkan tanaman secara kesinambungan atau berkala (Hoesen,2001).

Selain ZPT yang menentukan keberhasilan kultur in vitro adalah garam-garam mineral makro an mikro yang terdapat dalam media dasar turut mmpegaruhi pula. Untuk senyawa nitrogen (N) dan rasio antara amonium dengan nitrat dapat mempengaruhi diferensiasi, dediferensiasi, pertumbuahn dan perkemabang eksplan atau pembentukan organ (Priyono, 2001).

Dua zat pengatur tumbuh yaitu auksin dan sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang umum digunakan dalam budidaya kultur jaringan. Hal yang lebih menentukan arah pertumbuhan jaringan tanaman adalah perimbangan dari dua zat pengatur tumbuh tersebut (George dan Sherington, 1990).

Nanas diperbanyak dengan bagian mahkota buah, tunas batang (anakan), tunas dasar buah, dan stek batang. Untuk perusahaan baru yang akan memulai menanam nanas, biasanya membuat pembibitan nanas sendiri untuk memperoleh bibit dengan cepat dalam jumlah yang banyak. Bahan untuk pembibitan dapat digunakan stek batang dan mahkota buah. Pada prinsipnya setiap buku dari batang nanas dapat tumbuh menjadi tanaman nanas baru. Batang yang digunakan adalah batang nanas yang sudah dipanen buahnya. Dari satu batang nanas dapat diperoleh 20-40 bibit. Perbanyakan secara kultur jaringan dengan mata tunas batang juga dapat dilakukan, tetapi sering terjadi variasi somaklonal yang mengakibatkan bibit tidak seragam. Bibit dari anakan paling disukai karena cepat besar dan cepat berbuah, tetapi Smooth Cayenne hanya menghasilkan anakan sedikit, sehingga tunas dasar buah dan mahkota buah juga banyak digunakan. Mahkota buah, walaupun dapat digunakan sebagai bibit, tetapi jarang digunakan karena pertumbuhannya lambat dan tidak seragam (Anonim. 2010).

Menarik Lainnya  konservasi biodiversitas secara in-situ dan ek-situ 

Metode Praktikum

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum acara Kultur Jaringan Nanas (Ananas sp) dilaksanakan pada

Hari/ Tanggal : Kamis, 18 Oktober 2012

Waktu : 18.30 s/d 21.00 WIB

Tempat : Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta

Alat

          1. Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), lengkap dengan lampu Bunsen yang berisi spirtus.
          2. Petridish dan botol-botol kultur
          3. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes.

Bahan

  1. Eksplan : Nanas
  2. Media kultur
  3. Alkohol 96 %
  4. Aquadest steril
  5. Spirtus
  6. Chlorox (Sunclin).

Cara Kerja

  1. Persiapan eksplan
  2. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC)

Merendam eksplan dalam larutan pencuci piring ± 12 jam, dilanjutkan dengan chlorox 5,25 % (Sunclin 100 %) selama ± 3 menit.

Membilas eksplan dengan aquadest steril.

Sedikit melakukan pembakaran pada eksplan

  1. Penanaman eksplan

Membuka plastik penutup botol media kultur .

Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api.

Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi.

  1. Pemeliharaan

Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur.

Lingkungan di luar botol harus dijaga suhu, kelembaban dan cahayanya.

Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi.

  1. Pengamatan selama 5 minggu, yang diamati :

Saat muncul akar, tunas, daun dan kalus (HST), diamati setiap hari.

Jumlah akar, tunas dan daun, diamati 1 minggu sekali.

Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan.

Persentase keberhasilan, dilakukan pada akhir pengamatan.

  1. Hasil dan Pembahasan
  2. Hasil Pengamatan

Tabel 3. Pengaruh BAP terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Nanas (Ananas comusus)

Tanggal PengamatanSaat MunculJumlahKeterangan
AkarTunasDaunKalusAkarTunasDaun
22 Okt 2012sedikit ada kontaminasi
29 Okt 2012
5 Nov 2012Muncul kapang/jamur yang berwarna hijau, yang semakin banyak setiap harinya. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan jamur semakin meningkat.
10 Nov ‘12
15 Nov’12
20 Nov’12
25 Nov’12
30 Nov ‘12

Sumber : Laporan sementara

D:\KULJAR PRAK\Foto0517.jpg

Gambar 3.1 Pengamatan hari ke-5 Gambar 3.2 Pengamatan hari ke-10

D:\KULJAR PRAK\Foto0517.jpg

Gambar 3.3 Pengamatan hari ke-15 Gambar 3.4 Pengamatan hari terakhir

Pembahasan

Kultur jaringan adalah salah satu pembiakan secara vegetatife yang menggunkan sebagian dari tumbuhan dengan bantuan ZPT. Pada perbanyakan tanaman nanas dengan cara kultur jaringan yaitu menggunakan tunas daun, halini media yang paling tepat.

Pada acara tiga, eksplan yang dipilih adalah bagian dari daun mahkota nanas (Ananas comusus). Dari daun nanas tersebut hanya diambil sebagian kecil saja. Hal ini sesuai dengan konsep dasar dari kultur jaringan yaitu setiap organ memiliki sifat totipotensi yang artinya memiliki kemampuan setiap sel tumbuhan untuk menjadi individu yang sempurna.

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa pada minggu awal pengamatan sudah terdapat kontaminasi.Kontaminasi pada kultur jaringan nanas ini dapat disebabkan karena kurang sterilnya media, bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman yang menyebabkan adanya jamur baik pada media maupun pada eksplan itu sendiri yang ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna hijau muda, putih maupun berwarna kehitaman.

Persentase keberhasilan untuk kultur jaringan dengan eksplan daun nanas adalah 0 %. Hal tersebut karena dari eksplan tidak tumbuh akar, tunas maupun daun karena adanya faktor penghambat seperti kontaminan yang terdapat pada media.

Keberhasilan penanaman eksplan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor tersebut meliputi: pemilihan eksplan, penggunaan media yang sesuai, keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi sangat mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. Jika semua faktor tersebut tidak terpenuhi dengan baik, maka penanaman eksplan akan mengalami kegagalan seperti mati, tidak tumbuh atau terganggu oleh kontaminan.

Menarik Lainnya  Contoh Tugas Biodiversitas Berkaitan dengan Kesehatan

Saran agar kultur dengan eksplan nanas berikutnya tidak mengalami kegagalan, maka pemilihan eksplan harus sangat diperhatikan. Supaya pertumbuhan dan perkembangan eksplan dapat dilihat dan cepat maka hendaknya eksplan yang digunakan adalah daging bonggol dari mahkota nanas. Jika menggunakan daun nanas, untuk mendapatkan hasil (membentuk kalus) memerlukan waktu yang lama kira-kira satu bulan sedangkan jika kita memakai daging bonggol pada nanas maka pertumbuhan eksplan akan lebih cepat. Eksplan ini mempunyai karakteristik yaitu merupakan jaringan tebal dan berair. Penggunaan daging bonggol dari mahkota nanas bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik, artinya organ tersebut masih aktif membelah. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus, yaitu sekumpulan sel yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Selain pemilihan eksplan, diperlukan juga penjagaan lingkungan (alat, media dan bahan) agar tetap steril. Ketika penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan secara teratur dengan menggunakan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian dan terganggunya pertumbuhan eksplan. Disamping faktor eksplan dan kondisi lingkungan, ada salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies, bahkan varietas, tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi, zat pengatur tumbuh, lingkungan kultur, dll. Oleh karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama (Anonim, 2008).

  1. Kesimpulan dan Saran
  2. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

    1. Pada awal pengamatan sudah terjadim kontaminasi pada eksplan dan media tanam
    2. Eksplan yang terkontaminasi pada kultur jaringan nanas ini disebabkan oleh kurang sterilnya media, bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman.
    3. Persentase keberhasilan penanaman eksplan nanas (Ananas comusus) adalah 0%, karena pada eksplan tidak mengalami pertumbuhan.
    4. Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang berupa BAP pada eksplan tidak menunjukkan pengaruh.
  1. Saran

Saran yang dapat diberikan dalam praktikum ini adalah

    1. Pemilihan eksplan harus diperhatikan karena berhubungan dengan lama tidaknya pembentukan kalus. Pembentukan kalus akan lebih cepat jika eksplan berasal dari bonggol nanas dibandingkan dari daun mahkotanya.
    2. Harus lebih memperhatikan cara sterilisasi alat, media dan bahan agar tetap steril pada saat penanaman maupun pemeliharaan eksplan.
    3. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar terutama sterilisasi dengan penyemprotan spiritis secara teratur untuk menghindari adanya kontaminan dalam botol media kultur
    4. Dalam proses penanaman sebaiknya dicontohkan terlebih dahulu cara penanaman eksplan yang benar sehingga tidak terjadi kesalahan sterilisasi bahan yang berakibat terjadinya kontaminasi ataupun browning. Sebaiknya memperhatikan kesterilan alat dan bahan dan memastikannya dalam keadaan steril.
    5. Sebaiknya selalu memakai jas praktikum saat praktikum maupun pada saat pengamatan untuk menghindari adanya kontaminasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Teknik Kultur Jaringan diunduh dari http://www.bbpp-lembang.info.htm. tanggal 10 Desember 2012

Anonim. 2010. Pembibitan dan Perbanyakan Tanaman diunduh dari http:// binaukm.com/2010/06/teknik-budidaya-nenasnanas-pembibitan-dan-perbanyakan-tanaman tanggal 11 Desember 2012

Hoesen, D. S. H. 2001. Perbanyakan dan Penyimpanan Kultur Sambung Nyawa (Gynura Procumber L.) dengan Teknik In Vitro. Journal. Ilmiah:Berita Biologi. 5(4):279-285.

George, E.F. dan Sherrington P.D. 1990. Plant Propagation Anonim. 2006. Masalah-masalah yang Timbul pada Kultur Jaringan. http://iptek-net.go.id/today/artikelview/masalahyangtimbulpadakulturjaringan.html. Diakses pada tanggal 15 Desember 2007.

Priyono, Juhaeni. 2001. Regenerasi Tanaman Kerk Lily (Lilium longiflorum Thumb.) Melalui Embriogenesis Somatik pada Eksplan Daun. Journal Ilmiah : Berita Biologi. 5(4):395-403

Tanaka, M., dan Sakanishi Y. 1997. Factors Affecting The Growth of In Vitro Cultured Lateral Buds from Phalaenopsis Flower Stalks. J. Scientia Hort 8(4) : 169 – 178.

Wetter, L. R and F. Corstabel. 1982. Plant Tissue Culture Methods. The Prairie Regional Laboratory of The National Research

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *