Laporan Biologi Sistem Peredaran Darah

Posted on
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

I. JUDUL : Sistem Peredaran Darah
II. TUJUAN :
A. Menghitung jumlah erytrosit dan leukosit
Mengamati erytrosit dalam darah manusia.
Mengamati leukosit dalam darah manusia
Menghitung jumlah erytrosit per mm3 darah
Menghitung jumlah leukosit per mm3 darah
B. Hemogram
Menghitung jumlah basofil,neutrofil,eusinofil,limfosit dan monosit pada leukosit darah manusia
Mengamati macam-macam leukosit dalam darah manusia
C. Peredaran darah hewan pada ikan dan katak
Mengamati peredaran darah pada ekor ikan
Mengamati peredaran darah pada selaput renang katak
Membandingkan peredaran darah arteri dan vena pada ikan dan katak
III. DASAR TEORI

Sistem peredaran darah adalah sistem yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah. Jantung merupakan pemompa yang menjaga tetap terpeliharanya peredaran darah keseluruh tubuh. Dalam peredaran darah itu, darah membawa zat-zat makanan didalam sel-sel jaringan dan organ-organ serta membawa hasil-hasil metabolisme keluar dari jantung.
(Syamsiar.1988:25)
Darah di aorta banyak mengandung oksigen, maka dinamakan sebagai darah venosa. Didalam tubuh darah-darah mengalir dari jantung ke aorta, arteri dan arteriole. Dari sini langsung bisa menuju ke kapiler. Kapiler sejati lewat dulu ke arteriol baru kemudian masuk ke kapiler sejati. Selanjutnya kapiler-kapiler sejati bergabung menjadi venulae dan menuju vena, vena cava, akhirnya kembali ke jantung.
Sistem peredaran darah sistem yang mempunyai sangkut paut dengan pergerakan darah dalam pembuluh darah dan juga perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Sistem pembuluh darah memiliki perananan sebagai berikut :
a. Mengikat oksigen dari paru-paru / insang ke seluruh jaringan tubuh.
b. Mengangkut karbondioksida dari seluruh jaringan tubuh ke paru-paru insang.
c. Mengangkut hormon dari jaringan/ kelenjar endokrin
(Kartolo, S. 1993: 121)

Darah merupakan bagian penting dari sistem transportasi. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang terdiri dari 2 komponen yaitu:
a. Plasma darah : merupakan bagian darah yang cair
b. Benda-benda padat yang terdiri dari eritrosit,leukosit dan trombosit.
Darah yang dipakai dalam pemeriksaan hematologi biasanya adalah daerah kapiler dan darah vena. Darah kapiler pada orang dewasa diambil dari ujung jari atau daun telinga, sedangkan pada anak kecil atau bayi darah diambil dari tumit atau ibu jari kaki.
Jumlah sel darah merah untuk tiap jenis hewan berbeda, perbedaan ini dapat terjadi karena faktor fisiologis. Faktor fisiologis yang mempengaruhi jumlah eristrosit pada manusia adalah :
a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Olahraga
d. Ketinggian tempat
Sel darah merah ( Erytrosit )

Saat embrio,sel darah merah dibuat terutama pada hati,namun dibuat juga pada limpa dan kelenjar getah bening,kemudian pada periode hampir lahir,sel darah merah dibuat di sumsum merah pada tulang.
Jumlah eritrosit
Faktor fisiologis yang mempengaruhi jumlah erytrosit pada manusia: umur,jenis kelamin,olahraga,ketinggian tempat
Umur sel darah merah
Setiap hari manusia kehilangan dalam sel darahnya 200-250 x 109 buah erytrosit.Umur erytrosit sudah tua,selaput selnya menjadi rapuh dan waktu melalui pembuluh kapiler eritrosit pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Zat warna ( pigmen darah )
Tipe jenis pigmen darah mempunyai atom logam tertentu,hemoglobin dan hemieritrin,logamnya yaitu Fe ( besi ) sedangkan hemoglobin adalah tembaga (Cu). Tiap atom logam dapat mengikat oksigen (O2 )
Sel darah putih ( Leukosit )

Jumlahnya antara 6000-8000/mm3 .Sel darah putih berfungsi untuk alat pertahanan tubuh dengan cara fagositosis menghasilkan antibodi dan menghancurkan atau menetralkan racun.
Keping darah ( Trombosit )

Dalam 1 mm3 darah rata-rata terdapat 150.000 -350.000.Trombosit tetap mampu berfungsi rata-rata 9 hari dalam produksi oleh sumsum tulang belakang ( Soewolo,2000).
Darah memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses transportasi zat,baik pengambilan maupun pengeluaran zat-zat yang tidak berguna ( Slamet Santosa,1995)
Sel darah putih dapat digolongkan (dilihat) dari ada atau tidak adanya butir-butir (granul) pada sitoplasma dilihat dengan pewarnaan tertentu. Penggolongan tersebut ialah :
Sel darah putih granular : Netrofil, Eosinofil dan Basofil
Sel darah putih agranular : Limfosit dan Monosit 
(tidak berbutir-butir)

sel-sel darah putih pada Mamalia mempunyai struktur yang sama.
1. Netrofil
Netrofil pada darah manusia mempunyai jumlah yang terbesar kira-kira 60-70 % dari seluruh sel darah putih. Butir-butir pada sitoplasma menyerap zat warna netral (tidak asam tidak basa). Intinya mempunyai beberapa lobus. Mempunyai gerakan seperti amoeba dan sifatnya fagositasis. Bakteri atau benda-benda asing lainnya dihancurkan dengan dicerna secara intrasel. Jika ada infeksi jumlahnya bertambah banyak. Diameternya kira-kira 12 – 15 µ.

Gambar 2. Macam-macam Bentuk Sel Darah Mammalia (http://www.biosbcc.net/doohan/sample/htm/Blood%20cells.htm)

2. Eosinofil
Jumlahnya diperkirakan antara 1 -4 %. Diameternya antara 10 – 15 µ. Biasanya lebih kecil daripada netrofil. Fungsinya ialah menghancurkan dan detoksifikasi dari toksin. Intinya mempunyai 2 lobus, menyerap zat warna yangsifatnya asam. Dengan eosin butir-butir pada sitoplasma kelihatan berwarna merah muda.

3. Basofil
Jumlahnya antara 0 – 1 % dari seluruh sel darah putih. Diameternya sekitar 12 µ. Intinya umumnya mempunyai bentuk seperti huruf  S. diperkirakan basofil menghasilkan antioagulan (heparin). Butir-butir (granul) pada sitoplasma menyerap zat warna yang sifatnya basa dan berwarna biru.

4. Monosit
Jumlahnya kira-kira 4 – 8 % dari seluruh sel darah putih. Diameternya berkisar antara 15 – 20 µ. Inti bentuknya seperti tapal kuda atau bentuk ginjal. Monosit bersifat fagositosis yang kuat. Jumlah sitoplasmanya lebih besar dari intinya.
5. Limfosit
Jumlahnya kira-kira 20 – 30 % dari seluruh sel darah putih. Diameternya berkisar antara 8 – 16 µ. Intinya besar bundar atau seperti bentuk ginjal. Sitoplasmanya lebih kecil daripada intinya. Fungsinya ialah untuk menghasilkan antibody. Ada dua macam limfosit yaitu yang berukuran kecil dan yang berukuran besar.
Darah yang dipakai dalam pemeriksaaan hematologi biasanya adalah darah kapiler dan darah vena.  Darah kapiler pada orang dewasa diambil dari ujung jari atau daun telinga, sedangkan pada anak kecil atau bayi darah diambil dari tumit atau ibu jari kaki.
Cara pengambilan darah :
1. Tangan probandus diayunkan terlebih dahulu sebelum jarinya ditusuk
2. Ujung jari dibersihkan dengan kapas yang telah dibasahi alkohol 70%
3. Peganglah dan tekan sedikit jari tersebut
4. Jarum franke disetel 3-4 mm
5. Jari ditusuk dengan jarum dengan arah tusukan tegak lurus garis-garis sidik kulit jari dan setelah darah keluar, jari tidak boleh ditekan-tekan atau diperas.  Apabila menggunakan daun telinga, bagian yang ditusuk bukan bagian sisi tetapi cukup bagian pinggirnya saja.
6. Tetesan darah yang pertama diisap atau dihapus dengan kapas (tidak digunakan).  Tetesan darah berikutnya digunakan untuk pemeriksaaan
Pada darah terdapat banyak persenyawaan yang berperan dalam pembekuan darah. Untuk pembekuan darah perlu adanya fibrinogen yang berubah menjadi fibrin dalam plasma. Untuk ini diperlukan enzim yaitu trombin. Di dalam darah tidak ada trombin,tetapi ada protrombin yang harus diubah menjadi trombin. Perubahan protrombin menjadi trombin terjadi bila ada luka. Dengan adanya trombin pecah ,karena menyentuh permukaan kasar dan mengeluarkan enzim trombokinase yang dikeluarkan oleh jaringan yang luka dengan Ca 2+ tromboplastin mengubah protrombin menjadi trombin.
Protrombin
(dalam plasma )
Tromboplastin
(dari trombosit / jaringan )
Fibrinogen
(dalam plasma darah ) Ca 2+  (dalam plasma )

Fibrin

( Sumanto,2004)

Peredaran darah pada ikan
Arah aliran darah :
Darah dari jantung keluar melalui aorta ventral menuju insang. Di insang aorta bercabang menjadi arteri brankial dan akhirnya menjadi kapiler-kapiler (terjadi pertukaran gas yaitu pelepasan CO2 dan pengambilan O2 dari air. Dari kapiler insang darah mengalir ke aorta dorsal, kemudian ke kapiler seluruh tubuh untuk memberikan O2 dan sari makanan serta mengikat CO2. Selanjutnya darah kembali ke jantung melalui vena kardinalis anterior dan vena kardinalis posterior. Peredaran ikan termasuk peredaran darah tunggal (dalam satu kali peredarannya, darah melalui jantung satu kali).
Jantung ikan terdiri dari 2 ruang yaitu satu atrium dan satu ventrikel terdapat katup yang berfungsi mengalirkan darah ke satu arah. Dari darah seluruh tubuh mengalir ke sinus venosus dan kemudian masuk ke atriium,dari atrium darah mengalir ke ventrikel   conus arteriosus  aorta ventralis insang ke seluruh tubuh  vena cava  sinus venosus. ( Kartolo,1993 ).
Peredaran darah pada katak
Jantung katak terdiri dari 3 ruang yaitu 2 atrium yang berdinding tipis dan satu ventrikel yang berdinding tebal. Pada sekat antara atrium dan ventrikel terdapat katup. Darah dari seluruh tubuh masuk ke atrium melalui sinus venosus. Dari atrium kanan,darah masuk ke ventrikel jantung lalu dipompa melalui arteri pulmo kutanea yang bercabang 2,yang 1 menuju paru-paru disebut arteri pulmonalis dan cabang yang lain menuju ke kulit disebut arteri kutaneus. Dalam paru-paru dan kulit. Darah mengerahkan CO2 . Dari paru-paru dan kulit darah yang kaya O2 masuk dalam serambi kiri melalui vena pulmo kutaneus
 ( Soewolo.2000).
Arah aliran darah :
Darah yang kaya O2 dari paru-paru dan kulit masuk ke atrium kiri. Darah yang miskin O2 masuk ke atrium kanan dengan perantaraan sinus venosus. Dari atrium darah masuk ke ventrikel sehingga terjadi percampuran darah yang kaya O2 dan darah yang miskin O2 . Dari ventrikel darah yang kaya O2 dipompa ke jaringan tubuh dan pada saat darah yang miskin O2 dialirkan ke paru-paru ke kulit untuk memperoleh O2. Peredaran darah katak termasuk peredaran darah ganda (dalam satu kali peredarannya, darah melewati jantung 2 kali).

IV. ALAT DAN BAHAN
A. HEMOGRAM
ALAT BAHAN
Jarum frankle
Mikroskop
Objek glass
Deg glass
Pipet tetes 1buah
1buah
1buah
1buah
1buah Darah
Pewarna
Gymsa
Metanol
Aquades
Alkohol 70 %
Kapas
Tissue Secukupnya
Secukupnya

Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya

Secukupnya
Secukupnya

B. MENGHITUNG JUMLAH ERYTROCYT DAN LEUKOSIT
ALAT BAHAN
Hemositometer (bilik hitung sel darah) tipe Double Improved Neubauer
Mikropipet pencampur 1-11 untuk leukosit
Mikropipet pencampur 1-101 untuk eritrosit
Mikroskop
Blood counter          1 buah

1 buah

1 buah

1 buah
1 buah Darah vena/kapiler secukupnya
Larutan Turk           secukupnya
Larutan Hayem       secukupnya

C. PEREDARAN DARAH PADA IKAN DAN KATAK
ALAT BAHAN
pinset
mikroskop 1 buah
1 buah
ikan                 1 ekor
katak                1 ekor
eter               secukupnya
kapas             secukupnya
tissue             secukupnya
air                 secukupnya

V. CARA KERJA
A. MENGHITUNG JUMLAH ERYTROSIT DAN LEUKOSIT
a.  Menghitung jumlah leukosit (sel darah putih)
1. Dalam menghitung jumlah leukosit, terlebih dahulu dilakukan pengenceran darah 10 kali menggunakan larutan Turk
2. Larutan Turk terdiri dari campuran asam asetat glasial 3 ml, gentian violet 1% 1 ml dan akuades 100 ml.
3. Darah probandus yang keluar dari ujung jari diisap dengan mikropipet sampai angka 1 dan ujungnya dibersihkan dengan kertas isap
4. Larutan Turk dituang dalam botol flakon, kemudian diisap dengan mikropipet yang sama sampai angka 11
5. Pipa karet pada mikropipet dilepas dan larutan dalam mikropipet dikocok
6. Pengocokan dilakukan selama 2 menit dengan memegang kedua ujung mikropipet menggunakan ibu jari dan telunjuk lalu digerakkan membentuk angka 8.
7. Buanglah 2-3 tetes larutan dalam mikropipet, baru tetes berikutnya digunakan untuk menghitung
8. Siapkan bilik hitung dibawah mikroskop dan tutup dengan gelas penutup
9. Ujung mikropipet ditempelkan pada tepi gelas penutup sehingga cairan dalam pipet dapat masuk dengan sendirinya dalam bilik hitung karena daya kapilaritasnya
10. Amati dengan mikroskop perbesaran kuat dan hitung jumlah leukositnya
11. Leukosit yang terdapat di dalam bujursangkar-bujursangkar pojok dihitung semua dengan cacatan leukosit yang terletak pada garis batas sebelah kiri dan atas dari suatu bujursangkar masih ikut dihitung, sedang yang terletak pada garis kanan bawah tidak ikut dihitung.  Jadi jumlah bujursangkar yang dihitung menjadi 4 x 16 = 64 bujursangkar dengan sisi masing-masing ¼ mm.

Perhitungannya sebagai berikut : 
Jumlah bujursangkar yang dihitung = 16 x 4 = 64 bujursangkar 
Volume masing-masing = 1/160 mm3 
Darah diencerkan 10x 
Jumlah loukosit terhitung = L

Jumlah leukosit per mm3 = L / 64 x 160 x 10 = 25L

b.  Menghitung jumlah eritrosit (sel darah merah)
Dalam menghitung jumlah eritrosit, cara kerjanya hampir sama dengan menghitung jumlah leukosit, yang mana perbedaannya adalah :
1. Darah diencerkan 100 kali dengan pengencer larutan Hayem
2. Larutan hayem terdiri dari campuran Sodium sulfat 2,5 gram, sodium klorida 0,5 gram, merkuri klorida 0,25 gram dan akuades 100 ml. 
3. Eritrosit yang terdapat di dalam bujursangkar-bujursangkar tengah dihitung semua dengan cacatan eritrosit yang terletak pada garis batas sebelah kiri dan atas dari suatu bujursangkar masih ikut dihitung, sedang yang terletak pada garis kanan bawah tidak ikut dihitung.  Jadi jumlah bujursangkar yang dihitung menjadi 5 x 16 = 80 bujursangkar dengan sisi masing-masing 1/20 mm.
Perhitungannya sebagai berikut : 
Jumlah bujursangkar yang dihitung = 16 x 5 = 80 bujursangkar 
Volume masing-masing = 1/4000 mm3 
Darah diencerkan 100 kali 
Jumlah eritosit terhitung = E

Jumlah eritrosit per mm3 = E / 80 x 4000 x 100 = 5000E

Untuk menghitung sel darah baik leukosit maupun eritrosit dibantu dengan blood counter atau alat penghitung darah.

Gambar 1. Skema bilik hitung (hemositometer)

B. HEMOGRAM
1. Pembuatan sediaan apus darah
a) Siapkan dua object glass
b) Letakkan setetes darah yang berasal dari ujung jari probandus pada ujung object glass pertama
c) Ambil object glass kedua, sentuhkan salah satu ujungnya pada object glass pertama di sebelah kiri tetesan darah tadi sehingga kedua object glass itu membentuk sudut 45o ke kanan.
d) Gerakkan object glass kedua ke kanan sehingga tetesan darah berada di sudut antara kedua object glass dan membentuk garis yang tipis.
e) Biarkan preparaat ini kering dan siap diwarnai.
2. Pewarnaan preparat apus
a) Preparat apus yang telah kering difiksir dengan metanol selama 3-5 menit
b) Preparat apus ditetesi dengan larutan giensa (9 – 10 tetes) dan dibiarkan selama 20 – 30 menit. 
c) Preparat apus dicuci dalam air mengalir lalu dikeringkan dalam suhu ruang
3. Pengamatan
a) Preparat apus diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran kuat
b) Siapkan kolom atau tabel hemogram
c) Tentukan jenis dan jumlah leukosit yang ditemukan pada bidang pengamatan kemudian masukkan dalam tabel hemogram tiap 10 leukosit untuk satu kolom.
d) Masukkan ke dalam tabel sampai 10 kolom sehingga diperoleh 100 leukosit.
e) Hitung prosentase masing-masing leukosit

C. PEREDARAN DARAH PADA IKAN DAN KATAK
Peredaran darah pada ekor ikan:
1. Membius ikan yang masih hidup dengan eter dan kapas.
2. Merentangkan ekor ikan di atas meja mikroskop
3. Mengamati peredaran darah pada ekor ikan
4. Menggambar hasil pengamatan
Peredaran darah pada selaput renang katak
1. Membius katak dengan menggunakan eter dan kapas.
2. Merenggangkan selaput renang katak.
3. Merentangkan selaput renang katak di atas meja mikroskop.
4. Mengamati pesedaran darah pada selaput renang katak.
5. Menggambar hasil pengamatan.

VI. DATA PENGAMATAN
A. MENGHITUNG JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT
NO JENIS SEL DARAH JUMLAH PER mm3
1. Erytrosit 347
2. Leukosit 231

B. HEMOGRAM
NO JENIS LEUKOSIT KOLOM JUMLAH
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Leukosit Basofil 1 1 2
2 Leukosit Eusinofil 2 1 2 1 1 7
3 Leukosit Neutrofil (batang ) 2 3 4 1 10
4 Leukosit Neutrofil (segmen) 2 1 2 2 1 8
5 Limfosit 1 2 1 1 1 2 8
6 Monosit 1 2 1 2 6
jumlah 5 2 8 1 5 6 2 4 4 4 41

C.  SISTEM PEREDARAN DARAH PADA IKAN DAN KATAK
1. Sirip ekor ikan

2. Selaput Renang Katak

VII. PEMBAHASAN
A. MENGHITUNG JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT

Pada percobaan ini adalah bertujuan untuk mengetahui dan menghitung jumlah erytrosit dan leukosit pada mm3 darah. Prinsip kerjanya adalah dalam menghitung jumlah leukosit, terlebih dahulu dilakukan pengenceran darah 10 kali menggunakan larutan Turk.Larutan Turk terdiri dari campuran asam asetat glasial 3 ml, gentian violet 1% 1 ml dan akuades 100 ml.Darah probandus yang keluar dari ujung jari diisap dengan mikropipet sampai angka 1 dan ujungnya dibersihkan dengan kertas isap .Larutan Turk dituang dalam botol flakon, kemudian diisap dengan mikropipet yang sama sampai angka 11 .Pipa karet pada mikropipet dilepas dan larutan dalam mikropipet dikocok. Pengocokan dilakukan selama 2 menit dengan memegang kedua ujung mikropipet menggunakan ibu jari dan telunjuk lalu digerakkan membentuk angka 8.Kemudian membuang 2-3 tetes larutan dalam mikropipet, baru tetes berikutnya digunakan untuk menghitung. Menyiapkan bilik hitung dibawah mikroskop dan tutup dengan gelas penutup. Ujung mikropipet ditempelkan pada tepi gelas penutup sehingga cairan dalam pipet dapat masuk dengan sendirinya dalam bilik hitung karena daya kapilaritasnya. Mengamati dengan mikroskop perbesaran kuat dan hitung jumlah leukositnya. Leukosit yang terdapat di dalam bujursangkar-bujursangkar pojok dihitung semua dengan cacatan leukosit yang terletak pada garis batas sebelah kiri dan atas dari suatu bujursangkar masih ikut dihitung, sedang yang terletak pada garis kanan bawah tidak ikut dihitung.  Jadi jumlah bujursangkar yang dihitung menjadi 4 x 16 = 64 bujursangkar dengan sisi masing-masing ¼ mm.Perhitungannya sebagai berikut : 
∑ bujur sangkar yang di hitung : 16 x 4 = 64 bujur sangkar
V masing-masing :1/160  mm3
Darah di encerkan : 10 x
∑ leukosit terhitung :23654400
∑ leukosit per mm3 : 23654400/ (64 x 160 x 10 )=231
Dari hasil pengamatan dan perhitungan yang dilakukan maka diperoleh bahwa jumlah leukosit  pada tiap mm3 darah adalah 231
Sedangkan dalam menghitung jumlah eritrosit, cara kerjanya hampir sama dengan menghitung jumlah leukosit, yang mana perbedaannya adalah :Darah diencerkan 100 kali dengan pengencer larutan Hayem. Larutan hayem terdiri dari campuran Sodium sulfat 2,5 gram, sodium klorida 0,5 gram, merkuri klorida 0,25 gram dan akuades 100 ml.  Eritrosit yang terdapat di dalam bujursangkar-bujursangkar tengah dihitung semua dengan cacatan eritrosit yang terletak pada garis batas sebelah kiri dan atas dari suatu bujursangkar masih ikut dihitung, sedang yang terletak pada garis kanan bawah tidak ikut dihitung.  Jadi jumlah bujursangkar yang dihitung menjadi 5 x 16 = 80 bujursangkar dengan sisi masing-masing 1/20 mm.
Perhitungannya sebagai berikut : 
∑ bujur sangkar yang di hitung: 16 x 5 = 80 bujur sangkar
V masing-masing :1/4000  mm3
Darah di encerkan : 100 x
∑ eritrosit terhitung : 8883200000
∑ eritrosit per mm3 : 8883200000 / (64 x 4000 x 100) = 347
Untuk menghitung sel darah baik leukosit maupun eritrosit dibantu dengan blood counter atau alat penghitung darah.
Dari hasil pengamatan dan perhitungan yang dilakukan di dapatkan hasil bahwa besarnya jumlah eritrosit pada mm3 darah adalah 347.

B. HEMOGRAM

Hemogram mempunyai serangkaian perlakuan atau tes yang hasilnya dapat menunjukkan kesehatan seseorang atau kondisi seseorang. Beberapa hal yang menjadi indikator yang dapat diketahui dari serangkaian perlakuan hemogram adalah diantaranya jumlah eritrosit,jumlah leukosit,keping darah,kadar hemoglobin dan kadar hematosit.
Dalam percobaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis sel darah pada manusia dan mengetahui bagaimana bentuk-bentuk dari sel darah putih pada manusia dam nenghitung jumlah dari masing-masing jenis tersebut. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengambil darah dari jari probandus dengan cara menusuk dengan menggunakan jarum frankle yang sebelumnya jari dari probandus diusap dengan alkohol 70%. Pemakaian jarum frankle berguna untuk menyobek kulit dan mengalirkan darah yang akan dijadikan preparat apusan.
Penggunaan alkohol 70 % adalah untuk sterilisasi kulit agar tidak mengkontaminasi preparat. Tetesan pertama dihapuskan terlebih dahulu dengan kertas penghisap dan tidak digunakan karena dikhawatirkan masih mengandung alkohol, sehingga tetesan darah yang digunakan untuk membuat apusan pada object glass adalah tetesan berikutnya yang sudah bersih dari alkohol. Kemudian object glass yang diletakkan pada sisi atau tepi ditetesi dengan darah tersebut kemudian diratakan dengan deg glass dengan meggores dengan kemiringan 45 sehingga apusan menjadi tipis. Hal ini bertujuan agar darah menjadi rata supaya tidak ada yang terlalu tebal ataupun yang terlalu tipis.
Pada tahap pengeringan preparat apusan,preparat dikeringkan di udara kemudian difiksasi dengan menggunakan metil alkohol selama 5 menit.Metil alkohol merupakan larutal filestatif yaitu bertujuan untuk mematikan sel tanpa merusak komponen-komponen darahnya.
Tahapan selanjutnya adalah tahap pemberian larutan pewarna gymsa,hingga diperkirakan semua sel darah telah menangkap larutan pewarna tesebut. Perlakuan ini bertujuan untuk memberikan image yang berbeda pada masing-masing jenis sel darah berdasarkan kemampuannya menangkap zat warna. Kemudian dibiarkan ± 30 menit agar warnanya dapat terserap dengan baik.
Setelah diberi warna kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghindari penumpukan akibat pemberian larutan pewarna yang dapat menghambat pada saat pengamatan.Setelah preparat kering maka dapat di lihat di bawah mikroskop.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, diperoleh data antara lain adalah dapat terlihatnya sel darah merah dan sel darah putih. Bentuk leukosit tidak beraturan dengan granula nampak jelas di bagian tengah sel. Leukosit yang memiliki bentuk tersebut diidentifikasikan sebagai neutrofil. Leukosit adalah sel darah yang tidak bewarna,tidak memiliki inti dan tidak memiliki bentuk yang tetap. Pengamatan sel darah putih dengan menggunakan mikroskop akan terlihat seperti terdapat tetesan setengah cair yaitu yang disebut dengan granula spesifik. Granulosit-granulosit tersebut memiliki sitoplasma dan bentuk yang bervariasi. Presentase terbanyak dalam leukosit adalah neutrofil yaitu sebanyak 60-70% .Karakteristik neutrofil adalah bergaris tengah 12 nm,memiliki 1 inti dan 25 lobus. Neutrofil tidak mengandung RE kasar,sedikit mitokondria,golgi rudimeter dan sedikit granula glikogen. Sitoplasmanya banyak mengandung granula-granula spesifik. Neutrofil berperan dalam pertahanan seluler dan fagositosis terhadap partikel kecil yang aktif.
Selain leukosit yang berjenis neutrofil ditemukan pula jenis leukosit yang lain,yaitu basofil,eusinofil,limfosit dan monosit dengan jumlah pada setiap kolom pada 10 kolom percobaan berbeda-beda,yaitu:

NO JENIS LEUKOSIT KOLOM JUMLAH
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Leukosit Basofil 1 1 2
2 Leukosit Eusinofil 2 1 2 1 1 7
3 Leukosit Neutrofil (batang ) 2 3 4 1 10
4 Leukosit Neutrofil (segmen) 2 1 2 2 1 8
5 Limfosit 1 2 1 1 1 2 8
6 Monosit 1 2 1 2 6
Jumlah 5 2 8 1 5 6 2 4 4 4 41

Eusinofil umlahnya diperkirakan antara 1 -4 %. Diameternya antara 10 – 15 µ. Biasanya lebih kecil daripada netrofil. Fungsinya ialah menghancurkan dan detoksifikasi dari toksin. Intinya mempunyai 2 lobus, menyerap zat warna yangsifatnya asam. Dengan eosin butir-butir pada sitoplasma kelihatan berwarna merah muda.
Basofil jumlahnya antara 0 – 1 % dari seluruh sel darah putih. Diameternya sekitar 12 µ. Intinya umumnya mempunyai bentuk seperti huruf  S. diperkirakan basofil menghasilkan antioagulan (heparin). Butir-butir (granul) pada sitoplasma menyerap zat warna yang sifatnya basa dan berwarna biru.
Monosit jumlahnya kira-kira 4 – 8 % dari seluruh sel darah putih. Diameternya berkisar antara 15 – 20 µ. Inti bentuknya seperti tapal kuda atau bentuk ginjal. Monosit bersifat fagositosis yang kuat. Jumlah sitoplasmanya lebih besar dari intinya.
Limfosit jumlahnya kira-kira 20 – 30 % dari seluruh sel darah putih. Diameternya berkisar antara 8 – 16 µ. Intinya besar bundar atau seperti bentuk ginjal. Sitoplasmanya lebih kecil daripada intinya. Fungsinya ialah untuk menghasilkan antibody. Ada dua macam limfosit yaitu yang berukuran kecil dan yang berukuran besar.
Darah yang diambil untuk percobaan adalah jari manis karena mengandung banyak komponen darah dan lebih mudah menggumpal sehingga bisa cepat terlihat. Namun dalam pembuatan preparat dihasilkan bagian yang tidak rata, ada yang tebal dan tipis, hal ini karena :
a. Pemerataan darah pada object glass yang kurang.
b. Perendaman preparat apusan yang lama dan pewarnaan gins yang
terlalu banyak.

C. SISTEM PEREDARAN DARAH PADA IKAN DAN KATAK

Pada percobaan ini dilakukan pengamatan peredaran darah pada sirip ekor ikan dan selaput renang katak. Hal ini dikarenakan bagian tersebut nampak transparan,kulitnya tipis sehingga mudah untuk kita amati langsung dengan menggunakan mikroskop. Peredaran darah yang terlihat adalah vena dan arteri sehingga kita lebih mudah mengamati dan mengidentifikasi serta membedakan peredaran darah antara keduanya.
a. Peredaran darah pada sirip ekor ikan
Peredaran darah pada ikan ada 2 yaitu peredaran darah arteri dan vena.Kedua aliran darah tersebut mempunyai perbedaan dalam hal arah ,warna darah dan kecepatan alirannya. Darah yang melewati arteri disebut dengan darah arterial sedangkan darah yang melewati vena disebut dengan darah venosus. Jantung ikan terdiri atas sebuah sinus venosus,sebuah atrium,sebuah ventrikel dan sebuah konus arteriosus yang tersusun dalam urutan linier.Semua darah yang masuk ke jantung melalui vena mempunyai kadar O2 rendah dan kadar CO2 yang tinggi. ( darah venosa ). Pada waktu darah mengalir melalui insang, CO2  dilepaskan dan O2 diambil. Hal ini mengubah darah menjadi darah arteri.Aorta dorsal membagi darah arteri ini melalui cabang-cabangnya ke seluruh tubuh.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan,diperoleh bahwa terdapat 2 peredaran darah yaitu:
1. Perdaran darah arteri
Peredaran darah arteri tampak warna darahnya merah segar,warna merah segar ini disebabkan karena darah banyak mengandung haemoglobin yang mampu mengikat O2 . Semakin banyak hemoglobin maka semakin banyak pula O2  yang terikat ( darah bersih ). Aliran darah arteri menuju ke seluruh tubuh ikan. Jadi aliran darah arteri meninggalkan jantung dan menuju ke seluruh tubuh ikan ( dari anterior ke posterior ). Kecepatan aliran darah arteri berjalan sangat cepat. Hali ini dikarenakan dinding arteri mempunyai lapisan otot sehingga mampu mengecil dan membesar diameternya. Dengan memperkecil diameternya ( vasokonstriksi ) maka tekanan darahnya besar ( cepat ). Adanya aliran darah areteri yang cepat ini sangat memperlancar transportasi O2 yang diedarkan darah ke bagian seluruh tubuh ikan untuk proses metabolisme.

2. Peredaran darah vena
Peredaran darah vena alirannya menuju ke jantung ,yaitu dari arah posterior ke anterior ( dari seluruh tubuh menuju ke jantung ). Kecepatan aliran darahnya lambat,hal ini karena tekanan darah padavena kecil. Semakin mendekati jantung tekanannya melewati 0 mmHg. Darah yang melewati vena ( darah venosa) merupakan darah kotor yaitu darah yang mengandung banyak CO2 dan miskin O2 . Warnanya merah tua sampai kebiruan .Darah ini berasal dari seluruh tubuh yang akan dibawa ke jantung dan selanjutnya di bawake paru-paru untuk membuang gas sisa metabolisme ( CO2 ).

Gambar:

b. Perdaran darah pada selaput renang katak.
Pada percobaan ini, bagian yang diamati adalah selaput renang katak. Hal ini karena bagian ini transparan sehingga mudah untuk diamati kapiler-kapiler atau pembuluh darahnya baik arteri maupun venanya secara langsung.
Dari hasil pengamatan menunjukkan aliran darah dari arterior menuju ke posterior. Hal ini berarti baha aliran darah dari jantung menuju ke jaringan-jaringan tubuh. Di mana pembuluh darah ini disebut dengan pembuluh darah arteri yang ditunjukkan dengan warna merah. Arteri membawa darah bersih.O2 di sini diikat oleh Hemoglobin (Hb) yang dikandung ileh sel darah merah (erytrosit). Arteri juga mengangkut sari-sari makanan yang diperlukan oleh jaringan-jaringan atau sel-sel tubuh. Aliran darahnya terlihat sangat cepat karena arah aliran darahnya adalah dari jantung ke seluruh tubuh sehingga daya pompa dari jantung cukup besar atau kuat yang mendorong cepatnya aliran darah.
Selain itu juga ditemukan aliran darah dari posterior ke anterior. Hal ini berarti bahwa adanya  aliran darah dari jaringan-jaringan tubuh ke jantung,di mana pembuluh ini disebut dengan pembuluh darah vena yang ditunjukkan dengan warna biru. Aliran darah dalam pembuluh vena membawa darah yang kaya akan CO2 atau dapat dikatakan membawa darah kotor. CO2  di sini merupakan sisa metabolisme yang harus dikeluarkan . Aliran darah pembuluh vena lebih lambat dari pada aliran darah dari jaringan ke jantung sehingga terjadi penurunan tekanan darah yang kembali ke jantung.Hal ini disebabkan oleh daya serap atau daya isap jantung dan tidak adanya pompa jantung.
Peredaran darah pada katak adalah peredaran darah ganda yang terdiri atas:
1. Peredaran darah tubuh ( peredaran darah besar )
2. Peredaran darah paru-paru ( peredaran darah kecil )
Sehingga semakin berkembangnya peredaran darah,maka diperlukan kapiler-kapiler darah yang banyak untuk kelancaran aliran darah tersebut. Oleh karena itu kapiler-kapiler pembuluh darah pada katak bercabang-cabang.

Gambar:

VIII. KESIMPULAN
1. Jumlah erytrosit pada setiap mm3 darah yang dihitung adalah sebesar 347
2. Jumlah leukosit pada setiap mm3 darah yang dihitung adalah sebesar 231
3. Hemogram merupakan salah satu cara untuk mengetahui jenis-jenis sel darah pada manusia dan mengetahui bentuk- bentuk sel darah pada manusia sehingga dapat dibedakan menjadi berbagai macam bentuk sel darah.
4. Hemogram dapat berfungsi untuk mengetahui kesehatan atau kondisi seseorang dengan melakukan serangkaian tes atau perlakuan.
5. Pada percobaan,hemogram sel darah yang teramati adalah:
NO JENIS LEUKOSIT KOLOM JUMLAH
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Leukosit Basofil 1 1 2
2 Leukosit Eusinofil 2 1 2 1 1 7
3 Leukosit Neutrofil (batang ) 2 3 4 1 10
4 Leukosit Neutrofil (segmen) 2 1 2 2 1 8
5 Limfosit 1 2 1 1 1 2 8
6 Monosit 1 2 1 2 6
jumlah 5 2 8 1 5 6 2 4 4 4 41

6. Aliran darah pada pembuluh darah arteri ikan berwarna merah,karena kaya akan O2 ( oksigen ) dan alirannya sangat cepat,sedangkan aliran darah pada pembuluh vena berwarna biru karena banyak mengandung CO2 atau karbondioksida sehingga darah kotr dan aliran darahnya lebih lambat di bandingkan dengan peredaran darah pada pembuluh arteri.
7. Pada ikan dan katak terdapat 2 peredaran darah,yaitu:
a. Peredaran darah arteri
Aliran darah dari anterior menuju ke posterior
Membawa darah bersih  banyak mengandung Hb yang mampu mengikat O2.
Warnanya merah
Alirannya cepat
b. Peredaran darah vena
Aliran darah dari posterior menuju ke anterior
Membawa darah kotor  banyak mengandung CO2 dan sedikit O2
Warnanya merah tua hingga kebiruan
Aliran darahnya lebih lambat

IX. DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro.1994.Pengantar Fisiologi Hewan.Jakarta:Gramedia
Kartolo S.1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan.Jakarta: Depdikbud
Oman,Karmana.1987.Biologi.Bandung:Ganesa Exact
Rosyidi,Alvi.1997.Anatomi dan Fisiologi Manusia.Surakarta :UNS Press
Santoso,Slamet.1995. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Surakarta: UNS Press
Soewolo.2000.Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta:DIKTI
Sumanto.2004.Fisiologi Hewan.Surakarta:UNS Press
http://www.biosbcc.net/doohan/sample/htm/Blood%20cells.htm

X. LAMPIRAN
Tiga lembar laporan sementara