Metakognisi : Pengertian, Komponen, dan Strategi

Posted on

Metakognisi : Pengertian, Komponen, dan Strategi

Contents

  1. Pengertian Metakognisi

Istilah metakognisi diperkenalkan olehJohn Flavell, seorang psikolog dari UniversitasStanfordpada sekitar tahun1976.Metakognisi terdiri dari imbuhan “meta” dan “kognisi”.“Meta” merupakan awalan untuk kognisi yang artinya “sesudah”kognisi.Penambahan awalan “meta” pada kognisi untuk merefleksikan ide bahwa metakognisi di artikan sebagai kognisi tentang kognisi, pengetahuan tentang pengetahuan atau berpikir tentang berpikir.Metakognisi didefinisikan sebagai pemikiran tentangpemikiran (thinking about thinking) atau “pengetahuan seseorang tentang proseskognitifnya (One’s knowledge concerning one’sown cognitive processes)”(Flavell, 1976: p. 232).
Matlin (2003: 256), menyatakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan, kesadaran, dan kontrol kita terhadap proses kognitif kita. Lebih lanjut Matlin mengatakan bahwa metakognisi sangat penting dalam membantu kita mengatur lingkungan dan menyeleksi strategi untuk meningkatkan kemampuan kognitif kita selanjutnya.Metakognisi diartikan sebagai berpikir tentang berpikir, belajar tentang berpikir, belajar untuk belajar, belajar bagaimanabelajar, dan belajar tentang belajar serta sebagai pengetahuan, kesadaran, dan kontrol proses kognitif yang terjadi pada diri sendiri yang merupakan suatu bentuk kognisi, atau proses berpikir dua tingkat atau lebih yang melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif, oleh karena itu metakognisi dikatakan sebagai berpikir seseorang tentang berpikirnya sendiri atau kognisi seseorang tentang kognisinya sendiri (Mulbar, 2008). Metakognisi adalah salah satukemampuan dimana seakan-akan individuberdiri di luar kepalanya dan mencobamerenungkan cara dia berfikir atau proseskognitif yang dilakukan.
Metakognisi menurutHennesey (dalam Sarah Mittlefehldt, 2003: 2),mempunyai karakteristik sebagai berikut:(a) suatu kesadaran mengenai isi dari pemikiranyang dimiliki diri sendiri;(b) suatu kesadaran mengenai isi dari konsepseseorang;(c) suatu monitoring aktif mengenai proseskognitif seseorang;(d) suatu usaha untuk mengatur proses kognitifseseorang dalam hubungannya denganpelajaran lebih lanjut;(e) suatu aplikasi satu set heuristik sebagaisuatu alat efektif untuk membantu orang-orang mengorganisir metode mereka padapemecahan permasalahan secara umum.
Wellman menyatakan bahwa metakognisi sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses berpikir dua tingkat atau lebih yang melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif. Karena itu metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir seseorang tentang berpikirnya sendiri. Ketika seseorang mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi proses kognitifnya sendiri, mengetahui tugas-tugas mana saja yang dianggap berat atau mudah dan mengetahui apa yang diketahui, berarti seseorang tersebut telah menguasai metakognisinya. Metakognisi merupakan suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri, sehingga apa yang dilakukan dapat terkontrol secara optimal. Seseorang dengan kemampuan seperti ini dimungkinkan memiliki kemampuan tinggidalam memecahkan masalah.
Metakognisi mengacu pada pemahaman seseorang tentang pengetahuannya, sehingga pemahaman yang mendalam tentang pengetahuannya yang efektif atau uraian yang jelas tentang pengetahuan yang dipermasalahkan. Hal ini, menunjukkan bahwa pengetahuan kognisi adalah kesadaran seseorang tentang apa yang sesungguhnya diketahuinya dan regulasi kognisi adalah bagaimana seseorang mengatur aktivitas kognitifnya secara efektif.
Berdasarkan beberapa pengertian metakognisitersebut dapat dibuat batasan tentang metakognisiyaitu pengetahuan, kesadaran, dan kontrol sertapengelolaan penggunaan pikiran kita terhadapproses kognitif kita, sehingga seakan-akan kitaberdiri di luar kepala kita dan mencobamerenungkan cara kita berpikir atau proseskognitif yang kita lakukan. Metakognisi adalahkesadaran seseorang terhadap proses dan hasilberpikirnya, dalam mengembangkanperencanaan, memonitor pelaksanaan danmengevaluasi suatu tindakan, sehingga denganmetakognisi, seseorang akan “Tahu yang diketahuidan tahu yang tidak diketahui” (“Know thatyou know and know that you do not know”).
 

  1. Komponen Metakognisi

  2. Metakognisi Menurut Schraw & Dennison (1994)

Metakognisi dikemukakan oleh Schraw & Dennison (1994) memiliki dua aspek yang yaitu pengetahuan tentang kognisi (knowledge of cognition) dan regulasi tentang kognisi (regulation of cognition). Pengetahuan tentang kognisi mengacu pada apa yang diketahui tentang kognitif sendiri atau tentang kognisi secara umum yang terdiri dari pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional. Regulasi tentang kognisi mengacu pada serangkaian kegiatan yang membantu mengontrol belajar siswa yang terdiri dari perencanaan, manajemen informasi, monitoring, revisi, dan evaluasi.
Pengetahuan deklaratif mengacu pada pengetahuan “tentang” hal. Pengetahuan deklaratif meliputi pengetahuan tentang keterampilan seseorang, sumber belajar, dan kemampuan belajar serta pengetahuan tentang diri sendiri sebagai pembelajar dantentangfaktor-faktor yang mempengaruhikinerja seseorang. Pengetahuan prosedural mengacu pada pengetahuan “bagaimana” untuk melakukan sesuatu. Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan tentang melakukan sesuatu atau pengetahuan bagaimana mengimplementasikan prosedur, kapan harus menerapkan prosedur, dan tujuan menyelesaikan prosedur.
Pengetahuan kondisional mengacu pada pengetahuan “mengapa” dan “kapan” aspek kognisi digunakan atau kapan dan mengapa pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural digunakan, penentuan dalam proses atau keterampilan apa harus mentransfer, dan penerapan pengetahuan deklaratif dan prosedural dengan kondisi tertentu.
Perencanaan merupakan perencanaan kegiatan, pengaturan tujuan, dan alokasi sumber sebelum belajar. Perencanaan melibatkan pemilihan strategi yang tepat dan alokasi sumber daya yang mempengaruhi kinerja, termasuk membuat prediksi sebelum membaca, strategi squencing, dan mengalokasikan atau perhatian selektif sebelum memulai tugas. Manajemen informasi merupakan keterampilan dan strategi yang digunakan untuk memilih informasi yang efisien (mengorganisir, elaborasi, merangkum, dan fokus selektif). Monitoring merupakan penilaian seseorang dalam pembelajaran atau strategi yang digunakan oleh seseorang. Revisi merupakan strategi yang digunakan untuk memperbaiki pemahaman dan kesalahan kinerja, misalnya memilih strategi yang digunakan untuk memperbaiki pengetahuan mereka dan juga menyusun suatu program belajar untuk konsep, keterampilan, dan ide – ide baru. Evaluasi merupakan analisis kinerja dan strategi efektivitas setelah pembelajaran yang meliputi analisis pengetahuan yang lebih efektif setelah pembelajaran dan memahami faktor–faktor pendukung keberhasilan belajar siswa.

  1. Metakognisi Menurut Flavel (1992)
Menarik Lainnya  Budaya Menulis, Sejarah dan Perkembangannya

Flavel (1992: 4) mengungkapkan metakognisi sebagai kemampuan seseorang untuk memantau berbagai macam aktivitas kognisinya dilakukan melalui aksi dan interaksi antara 4 komponen yaitu:(1) pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge); (2) pengalaman metakognisi (metacognitive experience); (3) tujuan atau tugas-tugas (goals ortasks); (4) aksi atau strategi (actions or strategies).
Pengetahuan metakognisi adalah pengetahuan seseorang mengenai prosesberpikir yang merupakan persepektifpribadi dari kemampuan orang lain. Pengalaman metakognisi adalah pengalamankognisi atau afektif yang menyertai dan berhubungan dengan semua kegiatan kognitif. Dengan kata lain, pengalaman metakognisi adalah pertimbangan secara sadar dari pengalaman intelektual yang menyertai kegagalan atau kesuksesan dalam pelajaran. Tujuan atau tugas mengacu pada tujuan berpikir seperti membaca dan memahami suatu bagian untuk kuis mendatang, yang akan mencetuskan penggunaan pengetahuan metakognisi dan mendorong ke pengalaman metakognisi baru. Tindakan atau strategi menunjuk berpikir atau perilaku yang khusus yang digunakan untuk melaksanakannya, yang dapat membantu untuk mencapai tujuan.
Menurut Flavell, pengetahuan metakognisi secara umum dapat dibedakan menjadi 3 variabel, yaitu:

  1. Variabel individu.

Variabel individu yang mencakup pengetahuan tentang manusia (diri sendiri dan orang lain) memiliki keterbatasan dalam jumlah informasi yang dapat diproses. Pada variabel individu tercakup pula pengetahuan bahwa kita lebih paham dalam suatu bidang dan lemah dibidang lain. Demikian juga pengetahuan tentang perbedaan kemampuan anda dengan orang lain.

  1. Variabel tugas.

Variabel tugas mencakup pengetahuan tentang tugas-tugas(task), yang mengandung wawasan bahwa beberapa kondisi sering menyebabkan seseorang lebih sulit atau lebih mudah dalam memecahkan suatu masalah atau menyelesaikan suatu tugas. Misalnya, semakin banyak waktu yang saya luangkan untuk memecahkan suatu masalah, semakin baik saya mengerjakannya; sekiranya materi pembelajaran yang disampaikan guru sukar dan tidak akandiulangi lagi, maka saya harus lebih konsentrasi dan mendengarkan keterangan guru dengan seksama.

  1. Variabel strategi.

Variabel strategi mencakup pengetahuan tentang strategi, pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu atau bagaimana mengatasi kesulitan.
Adkins menyatakan bahwa metakognisi berkaitan dengan ketiga tipe pengetahuan yaitu: (1)pengetahuan deklaratif; (2)pengetahuan prosedural; (3)pengetahuan kondisional dalam pembelajaran. Pendapat ini juga diperkuat oleh para ahli lainnya, Crose dan Paris dan Jacobs dan Paris (dalam Desoete, 2001) menyatakan bahwa pengetahuan metakognisi berkaitan dengan ketiga tipe pengetahuan yaitu: (1) pengetahuan deklaratif; (2) pengetahuan prosedural; dan (3) pengetahuan kondisional.
Pengetahuan deklaratif mengacu kepada pengetahuan tentang fakta dan konsep-konsep yang dimiliki seseorang atau faktor-faktor yang mempengaruhi pemikirannya dan perhatiannya dalam memecahkan masalah. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu, bagaimana melakukan langkah-langkah atau strategi-strategi dalam suatu proses pemecahan masalah. Pengetahuan kondisional mengacu pada kesadaran seseorang akan kondisi yang mempengaruhi dirinya dalam memecahkan masalah yaitu: kapan suatu strategi seharusnya diterapkan, mengapamenerapkan suatu strategi dan kapan strategi tersebut digunakan dalam memecahkan masalah.
Gamma (2004) menyatakan bahwa pengetahuan metakognisi adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang dan tersimpan di dalam memori jangka panjang, berarti pengetahuan tersebut dapat diaktifkan atau dipanggil kembali sebagai hasil dari suatu pencarian memori yang dilakukan secara sadar dan disengaja, atau diaktifkan tanpa sengaja/ secara otomatis muncul ketika seseorang dihadapkan pada permasalahan tertentu.
keterampilan metakognisi adalah keterampilan berpikir seseorang untuk menyadari proses berpikirnya sendiri yang berkaitan dengan keterampilan perencanaan, monitoring dan evaluasi dalam memecahkan masalah. Keterampilan perencanaan adalah kegiatan berpikir awal seseorang tentang, bagaimana, kapan dan mengapa melakukan tindakan guna mencapai tujuan utama permasalahan. Keterampilan monitoring adalah kegiatan pengawasan seseorang terhadap strategi kognitif yang dipergunakannya selama memecahkan masalah, guna mengenali masalah dan memodifikasi rencana. Sedangkan keterampilan evaluasi didefinisikan sebagai pengecekan seseorang melihat kembali strategi yang telah digunakan dan apakah strategi tersebut mengarahkannya pada hasil yang diinginkan atau tidak.
 

  1. Strategi Meningkatkan Kemampuan Metakognisi Siswa
Menarik Lainnya  konservasi biodiversitas secara in-situ dan ek-situ 

Strategi yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan metakognisi siswamelalui kegiatan pembelajaran menurut (Taccasu Project, 2008) adalah sebagai berikut.

  1. Membantu siswa dalam mengembangkan strategi belajar dengan cara berikut.
    • Mendorong siswa untuk memonitor proses belajar dan berpikirnya.
    • Membimbing siswa dalam mengembangkan strategi-strategi belajar yang efektif.
    • Meminta siswa untuk membuat prediksi tentang informasi yang akan munculatau disajikan berikutnya berdasarkan apa yang mereka telah baca atau pelajari.
    • Membimbing siswa untuk mengembangkan kebiasaan bertanya.
    • Menunjukkan kepada siswa bagaimana teknik mentransfer pengetahuan, sikap-sikap,nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dari suatu situasi ke situasi yanglain.
  2. Membimbing siswa dalam mengembangkan kebiasaan yang baik dengan cara berikut.
    • Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri

Kebiasaan mengelola diri sendiri dapat dilakukan dengan: (1) mengidentifikasigaya belajar yang paling cocok untuk diri sendiri (visual, auditif, kinestetik,deduktif, atau induktif); (2) memonitor dan meningkatkan kemampuan belajar(membaca, menulis, mendengarkan, mengelola waktu, dan memecahkanmasalah); (3) memanfaatkan lingkungan belajar secara variatif (di kelas denganceramah, diskusi, penugasan, praktik di laboratorium, belajar kelompok, dsb).

  • Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir positif

Kebiasaan berpikir positif dikembangkan dengan: (1) meningkatkan rasa percayadiri (self-confidence) dan rasa harga diri (self-esteem); dan (2) mengidentifikasitujuan belajar dan menikmati aktivitas belajar.

  • Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir secara hirarkis

Kebiasaan untuk berpikir secara hirarkis dikembangkan dengan: (1) membuatkeputusan dan memecahkan masalah; dan (2) memadukan dan menciptakanhubungan-hubungan konsep-konsep yang baru.

  • Mengembangkan kebiasaan untuk bertanya

Kebiasaan bertanya dikembangkan dengan: (1) mengidentifikasi ide-ide ataukonsep-konsep utama dan bukti-bukti pendukung; (2) membangkitkan minat danmotivasi; dan (3) memusatkan perhatian dan daya ingat.
 
Blakey & Spence(1990) mengemukakan strategi-startegi atau langkah-langkah untuk meningkatkan keterampilan metakognisi, yakni:
(a)Mengidentifikasi “apa yang kau ketahui” dan “apa yang kau tidak ketahui”
Memulai aktivitas pengamatan, siswa perlu membuat keputusan yang disadari tentang pengetahuan mereka. Pertama-tama siswa menulis “ apa yang sudah saya ketahui tentang ….” dan “apa yang ingin saya pelajari tentang ….” Pada penyelidikan suatu topik, siswa akan menverifikasi, mengklarivikasi dan mengembangkan, atau mengubah pernyataan awal mereka dengan informasi yang akurat.
(b) Berbicara tentang berpikir (Talking about thinking)
Selama membuat perencanaan dan memecahkan masalah, guru boleh “menyuarakan pikiran”, sehingga siswa dapat ikut mendemonstrasikan proses berpikir. Pemecahan masalah berpasangan merupakan strategi lain yang berguna pada langkah ini. Seorang siswa membicarakan sebuah masalah, mendeskripsikan proses berpikirnya, sedangkan pasangannya mendengarkan dan bertanya untuk membantu mengklarifikasi proses berpikir.
(c) Membuat jurnal berpikir (keeping thinking journal)
Cara lain untuk mengembangkan metakognisi adalah melalui penggunaan jurnal atau catatan belajar. Jurnal ini berupa buku harian dimana setiap siswa merefleksi berpikir mereka, membuat catatan tentang kesadaran mereka terhadap kedwiartian (ambiguities) dan ketidakkonsistenan, dan komentar tentang bagaimana mereka berurusan/menghadapi kesulitan.
(d) Membuat perencanaan dan regulasi-diri
Siswa harus mulai bekerja meningkatkan responsibilitas untuk merencanakan dan meregulasi belajar mereka. Sulit bagi siswa menjadi orang yang mampu mengatur diri sendiri (self-directed) ketika belajar direncanakan dan dimonitori oleh orang lain
(e) Melaporkan kembali proses berpikir (debriefing thinking process)
Aktivitas terakhir adalah memfokuskan diskusi siswa pada proses berpikir untuk mengembangkan kesadaran tentang strategi-strategi yang dapat diaplikasikan pada situasi belajar yang lain. Metode tiga langkah dapat digunakan; Pertama: guru mengarahkan siswa untuk mengecek ulang aktivitas, mengumpulkan data tentang proses berpikir; Kedua: kelompok mengklasifikasi ide-ide yang terkait, mengindentifikasi strategi yang digunakan; Ketiga: mereka mengevaluasi keberhasilan, membuang strategi-strategi yang tidak tepat, mengindentifikasi strategi yang dapat digunakan kemudian, dan mencari pendekatan alternatif yang menjanjikan.
(f)   Evaluasi-diri (self-evaluation)
Mengarahkan pengalaman-pengalaman evaluasi-diri dapat diawali melalui pertemuan individual dan daftar-daftar yang berfokus pada proses berpikir. Secara bertahap, evaluasi-diri akan lebih banyak diaplikasikan secara independen.
 
Huitt (1997) mengemukakan beberapa contoh strategi guru untuk meningkatkan kemampuan metakognisi siswa, yakni:

  1. Mintalah siswa untuk memonitor belajar dan berpikir mereka sendiri.
  2. Mintalah siswa mempelajari strategi-strategi belajar.
  3. Mintalah siswa membuat prediksi tentang informasi yang akan dipresentasikan berdasarkan apa yang telah mereka baca.
  4. Mintalah siswa menghubungkan ide-ide untuk membentuk struktur pengetahuan.
  5. Mintalah siswa membuat pertanyaan; bertanya pada diri mereka sendiri tentang apa yang terjadi di sekeliling mereka.
  6. Bantulah siswa untuk mengetahui kapan bertanya untuk membantu.
  7. Tunjukkan siswa bagaimana mentransfer pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan pada situasi atau tugas lain.

 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *