Model Belajar Generative Learning Model (GLM) : Model Belajar Generative

Posted on

Generative Learning Model (GLM)

  1. Pengertian Generative Learning Model (GLM)

Model pembelajaran berbasis konstruktivis memandang belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan, bukan proses menghafal pengetahuan. Siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan dituntut mampu merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan masalah, berdialog, meneliti, mencari jawaban, mengekpresikan gagasan, mengungkap pertanyaan, dan merefleksi diri. Model pembelajaran berbasis konstruktivis menempatkan proses menemukan sebagai bagian penting dalam pembelajaran. Model pembelajaran berbasis konstruktivis berpotensi mampu memberdayakan kapasitas berpikir siswa.
Generative Learning Model merupakan suatu model pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir. Esensi dari GLM bertumpu pada pemahaman bahwa pikiran bukan penerima informasi yang pasif, melainkan aktif mengkonstruksi  dan menafsirkan informasi  serta mengambil kesimpulan (Osborne & Witrrock, 1985). Pembelajaran generatif merupakan pendekatan pembelajaran sains yang bertolak dari filosofi. Konstruktifisme yang artinya bahwa siswa mengkonstruksi sainsnya sendiri dalam lingkungan belajar. Pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara afektik pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Pembelajaran generatif terdiri dari dua kata yaitu generative dan learning. Generative adalah dapat menghasilkan, sedangkan learning adalah pengetahuan. Jadi generative learning adalah suatu proses pembelajaran yang dapat menghasilkan pengetahuan. Artinya pengetahuan itu tidak didapat dengan sendirinya melainkan melalui usaha seseorang dengan menggunakan potensi yang dimilikinya dan usaha kognitifnya karena pengetahuan bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan (Amaliah, 2013).
 

Sintaks Generative Learning Model (GLM)

Osborne dan Wittrock (1985) membagi Generative Learning Model (GLM) kedalam lima tahapan, yaitu: 1) Tahapan Orientasi; 2) Tahap Pengungkapan Ide; 3) Tahap Tantangan dan Restrukturisasi; 4) Tahap aplikasi; 5) Review atau meninjau kembali.

  • Tahapan Orientasi

Tahap pertama yaitu tahap orientasi yang disebut juga tahap pendahuluan. Pada tahap ekplorasi guru membimbing siswa untuk melakukan ekplorasi terhadap pengetahuan, ide, atau konsepsi awal yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari atau diperoleh dari pembelajaran pada tingkat sebelumnya. Untuk mendorong siswa agar mampu melakukam ekplorasi, guru dapat memberikan stimulus berupa beberapa aktifitas atau tugas-tugas seperti melalui demonstrasi atau penelusuran terhadap suatu permasalahan yang dapat menunjukan data dan fakta yang terkait dengan konsepsi yang akan dipelajari. Dalam aktifitas ini, gejala, data dan fakta yang didemonstrasikan sebaiknya dapat merangsang siswa berpikir kritis, mengkaji, data, fakta, gejala serta memusatkan pikiran terhadap permasalahan yang akan dipecahkan. Dengan demikian, pada akhirya dapat menumbuhkan rasa ingin tahu pada diri siswa. Melalui aktifitas demonstrasi/penelusuran, siswa didorong untuk mengamati gejala atau fakta. Guru harus mengarahkan proses diskusi guna mengidentifikasi konsepsi siswa yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi rimusan, dugaan atau hipotesis. Pada proses pembelajaran ini guru berperan memberikan dorongan, bimbingan, motifasi dan memberi arahan agar siswa mau dan dapat mengemukakan pendapat, ide dan hipotesis. Pendapat, ide dan hipotesis sebaiknya disajikan secara tertulis. Pendapat atau ide siswa yang berhasil teridentifikasi mungkin ada yang benar atau mungkin juga ada yang salah. Apabila konsepsi siswa ini ada yang salah maka dikatakan terjadi salah konsep (misconception). Namun demikian, guru pada saat itu sebaiknya tidak memberikan makna, menyalahkan atau membenarkan terhadap konsepsi siswa (Sutarman & Swasono,2003; Wenna, 2009).

  • Tahapan Pengungkapan Ide

Tahap kedua yaitu tahap pemfokusan atau pengenalan konsep. Pada tahap pemfokusan siswa melakukan pengujian hipotesis melalui kegiatan labolatorium atau dalam model pembelajaran yang lain. Pada tahap ini bertugas sebagai fasilitator yang menyangkut kebutuhan sumber, memberi bimbingan dan arahan, dengan demikian para siswa dapat melakukan proses sains. Tugas-tugas pembelajaran yang diberikan hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga memberi peluang dan merangsang untuk menguji hipotesisnya dengan caranya sendiri. Tugas-tugas pembelajaran yang disusun atau yang dibuat oleh guru hendaknya tidak seratus persen merupakan petunjuk atau langkah-langkah kerja, tetapi tugas-tugas haruslah memberikan kemungkinan siswa beraktivitas sesuai dengan caranya sendiri atau cara yang diinginkannya. (Sutarman dan Swarsono, 2003).

  • Tahap tantangan

Tahap ketiga yaitu tahap tantangan disebut juga pengenalan konsep. Setelah siswa memperoleh data selanjutnya menyimpulkan data dan menulis dalam lembar kerja. Para siswa diminta mempersentasikan temuannya melalui diskusi kelas. Melalui diskusi kelas akan terjadi proses tukar pengalaman di antara siswa. Dalam tahap ini siswa berlatih untuk berani mengeluarkan ide, kritik, berdebat, menghargai pendapat teman. Pada saat diskusi guru berperan sebagi moderator dan fasilitator agar jalannya diskusi dapat terarah. Diharapkan pada akhir diskusi siswa memperoleh kesimpulan dan pemantapan konsep yang benar. Pada tahap ini terjadi proses kognitif, yaitu terjadinya proses mental yang disebut asimilasi dan akomodasi Terjadi asimilasi apabila konsepsi siswa sesuai dengan konsep benar menurut data eksperimen, terjadi proses akomodasi apabila konsepsi siswa cocok dengan data empiris. Pada tahap ini sebaiknya guru memberikan pemantapan konsep dan latihan soal. Latihan soal dimaksudkan agar siswa memahami sacara mantap konsep tersebut. Pemberian soal latihan dimulai dari yang paling mudah kemudian menjadi sukar (Sutarman dan Swasono,2003). Dengan soal-soal yang tingkat kesukarannya rendah, sebagian siswa akan mampu menyelesaikan dengan benar, hal ini akhirnya akan menumbuhkan motivasi belajar siswa. Sebaiknya, jika langsung diberikan soal yang tingkat kesukarannya tinggi mak sebagian besar siswa tidak akan mampu menyelesaikan dengan benar, karena tidak mampu menyelesaikan dengan benar maka akan dapat menurunkan motivasi belajar siswa (Amaliah, 2013).

  • Tahap Aplikasi

Tahap keempat adalah tahap penerapan. Pada tahap ini siswa diajak untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan konsep barunya atau konsep benar dalam situasi baru yang berkaitan dengan hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian tugas rumah atau tugas proyek yang dikerjakan siswa di luar jam pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik untuk dilakukan. Pada tahap ini siswa diberi banyak latihan-latihan soal. Dengan adanya latihan soal, siswa akan semakin memahami konsep secara lebih mendalam dan bermakna. Pada akhirnya konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke memori jangka panjang, ini berarti tingkat retensi siswa semakin baik.

  • Tahap Review

Tahap terakhir adalah peninjauan jawaban kembali, hal ini untuk memastikan jawaban siswa sudah benar untuk memantapkan konsep yang didapatnya dalam kegiatan pembelajaran.

Keunggulan dan Kelemahan Generative Learning Model (GLM)

Renaldi (2008) menyatakan bahwa Generative Learning Model (GLM) memiliki beberapa keunggulan antara lain adalah : 1) siswa dapat terlibat aktif dalam prose pembelajaran; 2) kemampuan pemahaman siswa serta kemampuan pemecahan masalah siswa dapat meningkat; 3) meningkatkan hasil belajar siswa; 4) siswa mampu menghasilkan keterampilan metakognisi. Sementara itu Generative Learning Model (GLM) juga mempunyai kelemahan antara lain adalah beberapa pokok materi dalam biologi sulit untuk diterapkan model ini karena karakteristik materi biologi yang berbeda-beda dan untuk menjalankan keseluruhan sintaks dalam mdel ini akan memerlukan waktu pembelajaran yang relatif panjang.