RANCANGAN PENGEMBANGAN LABORATORIUM BIOLOGI

Posted on

RANCANGAN PENGEMBANGAN LABORATORIUM BIOLOGI

 

  1. Rencana Pengembangan Jangka Pendek Laboratorium Biologi SMA

Rencana pengembangan laboratorium biologi jangka pendek  ini yang perlu dilakukan adalah :

  1. Sarana dan Prasarana

Penataan ulang lay out laboratorium dilakukan sedemikian rupa dan harapannya dapat mempermudah pengguna laboratorium dalam menggunakan laboratorium karena ruangan yang sudah tertata rapi dan alat dan bahan sudah dikelompokkan sesuai dengan fungsi masing-masing. Pada pengelompokan alat praktikum yang disesuaikan dengan jenis praktikum dan disimpan dalam almari yang berbeda, misalnya pada almari A fungsinya adalah menyimpan preparat awetan hewan dan almari B sebagai penyimpanan alat –alat praktikum mikroskopis, dan lain-lain. Almari penyimpanan yang terpisah mempermudah pengguna dan pengelola laboratorium untuk mencari alat dan bahan dan menempatkan kembali pada tempat semula. Keuntungan lay out yang telah dibenahi tersebut adalah alat-alat praktikum tertata rapi, ruang praktikum menjadi nyaman dan mudah dalam mencari alat-alat untuk kegiatan praktikum, sehingga mampu mempermudah kinerja pengguna dan pengelola laboratorium.

Peralatan yang berada di laboratorium juga perlu diperhatikan dalam rancangan pengembangan jangka pendek. Peralatan laboratorium biologi sebagai salah satu sarana yang digunakan dalam proses belajar mengajar di laboratorium biologi wajib dimanfaatkan, dipelihara, dirawat secara optimal dan berkala agar tetap berfungsi dengan baik. Oleh karena itu sekolah menengah atas sebagai salah satu pendidikan formal perlu merencanakan upaya pemeliharaan dan perawatan peralatan laboratorium biologi secara berkala dan berkelanjutan.

 

  1. Rancangan Struktur Organisasi

Pengorganisasian pengelola merupakan aspek yang penting dikarenakan laboratorium biologi memerlukan pengelola yang berdedikasi tinggi dan mempunyai kompetensi khusus untuk menjadi pengelola laboratorium, sehingga pengelola perlu diberi pengarahan dan sosialisasi tentang tugas dan kewajibannya dalam mengelola laboratorium biologi. Pengelola laboratorium biologi pada dasarnya sudah melaksanakan tugasnya dalam mengelola laboratorium, tetapi belum sepenuhnya memahami tugas dan tanggungjawabnya. Pengelola belum melakukan inventarisasi maupun penataan terhadap alat dan bahan di dalam laboratorium. Oleh karena itu pengelola diberikan sosialisasi tentang tugas dan tanggungjawab yang telah tercantum di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2008 tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah.

Di SMA yang memiliki tiga laboratorium IPA (Fisika, Kimia, Biologi) hanya memiliki satu laboran yang mengurusi ketiga laboratorium tersebut. Seharusnya setiap laboran hanya bertanggungjawab terhadap satu laboraorium yang menjadi bidang ilmunya karena pembelajarn sains tidak dapat terlepas dari kegiatan praktikum di dalam laboratorium, sehingga laboran mempunyai tanggungjawab untuk menjaga kelangsungan laboratorium.

Kondisi struktur organisasi perlu dilakukan perubahan agar tugas pokok dan fungsi pengelola laboratorium sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2008 tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah dan didasakan juga pada otonomi serta kondisi dan kebutuhan sekolah. Struktur organisasi setelah mengalami perbaikan secara teori mempunyai kelebihan yaitu pembagian tugas yang jelas dan terarah sehingga pengelola dapat bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya. Menurut Lubis (1993) dalam Thantris (2008) organisasi laboratorium yang baik memberi peluang komunikasi yang lancar antara pengelola laboratorium, guru pemimpin praktikum dan para admistrator.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 35 butir c menetapkan bahwa tenaga pendidikan pada SMA bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya harus terdiri atas tenaga laboratorium. Peraturan lain, yaitu Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan bagian B nomor 7 point F menetapkan bahwa laboratorium dikembangkan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dilengkapi dengan manual yang jelas sehingga tidak terjadi kekeliruan yang menimbulkan kerusakan. Dua peraturan tersebut jelas menghendaki bahwa tenaga laboran di sekolah adalah tenaga yang memiliki kualifikasi profesional dapat dipercaya dan bertanggungjawab, karena tugas yang diembannya bukan sekedar menjalankan laboratorium sesuai dengan agenda kurikulum, namun secara luas juga bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik.

Menurut Permendiknas Nomor 26 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah, ada 3 tenaga laboratorium yaitu Kepala Laboratorium, Teknisi Laboratorium dan tenaga Laboran, dengan kompetensi dan sub kompetensinya masing-masing. Perawatan peralatan dan bahan kimia di laboratorium SMA merupakan bagian dari kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh teknisi laboratorium dan laboran, yaitu kompetensi dan sub kompetensi yang terkait dengan perawatan bahan dan peralatan laboratorium

  1. Pengadministrasi Alat dan Bahan Laboratorium

Pengadministarsian alat dan bahan sebelumnya belum dilaksanakan dengan baik sehingga perlu dilakukan perbaikan. Alat dan bahan yang masih layak digunakan didata, dikelompokkan dan disimpan sesuai dengan jenis, kegunaan ataupun bahan penyusunnya. Buku inventarisasi alat dan bahan telah disusun, akan tetapi belum semua data alat dan bahan dapat didata, hal tersebut dikarenakan alat dan bahan sudah terlalu tua usianya dan tidak ditemukan spesifikasinya.

Inventarisasi sebelum dilakukan pengelolaan. Data tersebut belum lengkap karena tidak semua alat dan bahan didata dan tidak diketahui dimana alat dan bahan tersebut disimpan. Inventarisasi tersebut perlu dibenahi. Langkah yang dilakukan adalah mendata ulang alat dan bahan yang masih layak digunakan kemudian dikelompokkan sesuai dengan fungsinya setelah itu ditempatkan pada almari yang terpisah sesuai dengan jenis praktikumnya.

 

  1. Perawatan Alat Laboratorium

Agar semua obyek dan peralatan di laboratorium selalu dalam keadaan siap untuk dipakai dalam pembelajaran, maka diperlukan perawatan obyek dan peralatan laboratorium yang tersistem. Sistem perawatan obyek dan peralatan laboratorium tersebut harus jelas apa yang dirawat, bagaimana cara merawat, kapan pelaksanaan perawatan dilakukan, siapa yang melakukan perawatan, dan sebagainya.

Pada umumnya perawatan di bagi atas dua bagian, yaitu perawatan terencana dan perawatan tak terencana. Perawatan terencana (planned maintenance) didefinisikan sebagai proses perawatan yang diatur dan diorganisasikan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi terhadap peralatan di waktu yang akan datang. Di dalam perawatan terencana, terdapat unsur pengendalian dan unsur pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Perawatan terencana adalah sistem pengorganisasian perawatan atau program perawatan yang dikelola dengan cara yang efektif. Perawatan terencana merupakan bagian dari sistem manajemen perawatan yang terdiri atas perawatan preventif (preventive maintenance), perawatan prediktif (predictive maintenance), dan perawatan korektif (corrective maintenance) (Suprayitno, 2011).

Perawatan tidak terencana adalah jenis perawatan yang bersifat perbaikan terhadap kerusakan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Pekerjaan perawatan ini tidak direncanakan, dan tidak dijadwalkan. Umumnya tingkat kerusakan yang terjadi adalah pada tingkat kerusakan berat. Karena tidak direncanakan sebelumnya, maka juga disebut perawatan darurat.

 

  1. Keselamatan Kerja di Laboratorium

Faktor keselaman kerja di dalam laboratorium tidak bisa dianggap remeh karena laboratorium dapat menimbulkan kecelakaan yang fatal apabila tidak mengetahui prosedur keselamatannya. Oleh karena itu disusun tata tertib laboratorium dan petunjuk keselamatan praktikum yang di dalamnya berisi tentang peringatan, petunjuk dan larangan. Selain itu diupayakan tersedianya alat pemadam kebakaran dan kotak PPPK. Pada saat praktikum siswa diwajibkan untuk mengenakan jas praktikum. Keselamatan kerja di dalam laboratorium merupakan tanggungjawab bersama antara guru, pengelola dan siswa. Guru dan pengelola bertanggungjawab untuk membuat petunjuk keselamatan praktikum dan membuat peraturan agar selama bekerja di laboratorium tercipta keamanan dan kenyamanan. Siswa mempunyai tanggungjawab untuk memahami aturan yang ada sehingga kecelakaan kerja di dalam laboratorium dapat diminimalisir.