Teknik Make a Match Model Pembelajaran Kooperatif

Posted on
Pada model pembelajaran kooperatif, siswa yang merupakan makhluk individualis (homo
homini lupus)
diharapkan menjadi seorang makhluk sosial (homo
homini
socius)
. Salah satu teknik belajar mengajar dalam
pembelajaran model
pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan untuk mengasah
kemampuan homo
homini socius adalah teknik belajar
mengajar mencari pasangan (Make A Match).
Menurut Isjoni (2010: 77) “Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu
konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan
. Teknik ini memberi kesempatan siswa bekerja sama
dengan orang lain dan bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua
tingkatan usia anak didik.
Ciri
utama
model pembelajaran kooperatif teknik make a match adalah siswa diminta mencari pasangan
kartu yang merupakan jawaban atau soal dalam waktu tertentu. Salah satu
keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu
konsep atau  topik dalam suasana yang
menyenangkan.
Menurut Hanafiah dan Suhana (2009: 46) Adapun prosedur
pembelajaran yang dilakukan dalam teknik make a match
adalah:        1) Guru
menyiapkan beberapa waktu kartu yang berisi beberapa konsep atau yang cocok
untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
; 2) Setiap peserta didik mendapatkan satu buah
kartu; 3) Setiap
peserta didik memikirkan jawaban atas soal dari kartu yang dipegang; 4) Setiap
peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya
(soal jawaban);  5) Setiap peserta didik yang
dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin; 6) Setelah satu
babak, kartu dikocok lagi agar setiap peserta didik mendapatkan kartu yang
berbeda dari sebelumnya; 7) Kesimpulan.
According to Mel Silberman (1996: 159)
Make A Match is called by Index card match, the activity of it are: 1) On
separate index cards, write down questions about anything taught in the class.
Create enough question cards to equal one-half the number of students; 2) On
separate cards, write answers to each of these questions; 3)Mix the two sets of
cards and shuffle them several times so they are well mixed; 4) Give out one
card to each student. Explain that this is a matching exercise. Some students
have review questions and others have the answers; 5)Have students to find
together. (Tell them not to reveal to other students what is containted on
their cards.); 6) When all the matcing pairs have seated, have each pair quiz
the rest of the class by reading their question and challenging classmates to
tell them answer.
Dari pendapat Mil
Silberman diatas dapat diartikan  make a
match yang disebut index card memiliki prosedur: 1) Pada kartu indeks terpisah
tulisan pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan didalam kelas. Buatlah kartu
pertanyaan yang cukup untuk menyamai satu setengah jumlah siswa; 2) Pada kartu
terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut;    3) Campurlah dua lembar kartu dan kocok
beberapa kali sampai benar-benar tercampur; 4) Berikan satu kartu pada setiap
peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang
pertanyaan review dan lain memegang
jawaban; 5) Perintahkan pada peserta didik untuk menemukan kartu permainannya.
Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang bermain untuk mencari
tempat duduk bersama (beritahu mereka jangan menyatakan kepada peserta didik
lain apa yang ada pada kartunya); 6) Ketika semua pasangan permainan telah menempati
tempatnya, perintahkan setiap pasangan menguji peserta didik yang lain dengan
membaca keras pertanyaannya dan menantang teman sekelas untuk menginformasikan
jawaban kepadanya.
Berdasarkan pendapat
diatas dapat disimpulkan langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif teknik make a match secara sistematis yaitu
guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-persoalan dan kartu yang berisi
jawabannya, siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha
menjawabnya, tetapi setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan
persoalannya
.
Siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan di
kocok untuk bapak berikutnya. Dalam tahap berikutnya pelaksanaan pembelajaran
seperti tahap pertama
dan dilanjutkan penyimpulan dan evaluasi, refleksi. Dengan demikian siswa belajar matematika tidak
hanya mendengarkan dan guru menerangkan didepan kelas saja namun
tercipta kondisi belajar dengan penuh keaktifan dan kreativitas
siswa dalam pembelajaran matematika.
Model pembelajaran kooperatif teknik make a match merupakan salah satu teknik
dalam model kooperatif yang
membentuk kelompok berpasangan yang dalam pelaksanaannya menggunakan media kartu
soal dan kartu jawaban. Anita Lie (2002: 46)
menjelaskan bahwa
kelompok berpasangan mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai
berikut:
1)       
Kelebihan:
a)     
Meningkatkan partisipasi antar
anggota kelompok.
b)     
Cocok untuk tugas sederhana.
c)     
Lebih banyak kesempatan untuk
kontribusi masing-masing anggota kelompok.
d)    
Interaksi menjadi lebih mudah
dan cepat membentuknya.
2)       
Kelemahan:
a)     
Banyak kelompok yang melapor
dan perlu dimonitor.
b)     
Lebih sedikit ide yang muncul.
c)     
Jika ada perselisihan, tidak
ada penengah.
Berdasarkan prosedur proses pembelajaran make
a match
siswa nampak lebih aktif mencari pasangan kartu antara jawaban dan
soal. Dengan
teknik pencarian kartu pasangan ini siswa dapat mengidentifikasi
permasalahan yang terdapat di dalam kartu yang ditemukannya dan menceritakannya
dengan sederhana dan jelas secara bersama-sama. Pada saat guru menyiapkan
beberapa kartu yang berisi konsep/topik tentang mencari pikiran utama dan
pikiran penjelas dalam wacana untuk sesi review (satu sisi berupa kartu soal
dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban). Setelah guru memerintahkan siswa
untuk mengambil kartu tampak sebagian besar siswa bersemangat dan termotivasi
untuk menarik satu kartu soal.
Setelah siswa mendapatkan kartu soal, Masing-masing
tampak memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Kelompok dengan
pasangannya ingin saling mendahului untuk mencari pasangan dan mencocokkan
dengan kartu (kartu soal atau kartu jawaban) yang dimilikinya. Di sinilah
terjadi interaksi antar kelompok dan interaksi antar siswa di dalam kelompok
untuk membahas kembali soal dan jawaban. Guru membimbing siswa dalam
mendiskusikan hasil pencarian pasangan kartu yang sudah dicocokkan oleh siswa.
Pada penerapan model pembelajaran kooperatif teknik make a match ini dapat memupuk kerja
sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di
tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar
siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak
sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing.
Dengan
menerapkan pembelajaran
model
pembelajaran kooperatif
teknik
make a match diharapkan kegiatan pembelajaran lebih
kondusif, sederhana, bermakna
dan
menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.

Daftar Pustaka

Anita Lie. 2002. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.

Hanafiah dan Cucu Suhana. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung:
PT. Ravika Aditama.

Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif.  Yogjakarta: Pustaka Pelajar.