Teori Belajar Sosial Vygotsky

128 views
Teori Belajar Sosial
Vygotsky



Vygotsky
mengemukakan pembelajaran merupakan suatu perkembangan pengertian yaitu siswa
membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri

melalui bahasa (Trianto, 2010:38). Sumbangan dan teori Vygotsky adalah
penekanan pada hakekat sosiokultural dalam pembelajaran. Proses pembelajaran
terjadi saat anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Zona
perkembangan proksimal merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya
dengan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan sesungguhnya adalah
kemampuan pemecahan masalah secara mandiri, sedangkan tingkat perkembangan
potensial adalah kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa
atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.

Ide
penting lain yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah scaffolding. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah
bantuan kepada anak pada tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi
bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab saat
mereka mampu (Trianto, 2010: 39).  Siswa diberikan tugas-tugas kompleks,
sulit, dan realistik yang kemudian dibimbing untuk mencari penyelesaiannya
sampai siswa dapat menemukan sebagian penyelesaiannya kemudian mengurangi
bantuan yang diberikan sedikit demi sedikit hingga siswa dapat melakukannya
sendiri. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan,
menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan
tindakan-tindakan lain yang memungkinkan pelajar tumbuh mandiri (Isjoni, 2009:
39-40).
Berdasarkan pada teori Vygotsky di atas, terdapat beberapa keuntungan yaitu: (1)
pengembangan potensi anak akan lebih luas melalui belajar dan berkembang, (2)
pembelajaran lebih mengaitkan dengan tingkat perkembangan potensial daripada
tingkat perkembangan aktual agar anak dapat berkembang sesuai potensi yang
dimiliki, (3) pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk
mengembangkan kemampuan intermental daripada kemampuan intramental, (4) anak
diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang
telah dipelajari dengan pengetahuan prosedural yang dapat digunakan untuk
melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah, dan (5) proses belajar dan
pembelajaran merupakan suatu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru
(Budiningsih, 2005: 104).

Budiningsih. A.
(2005). Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: PT Rineka Cipta.

Isjoni. (2009). Cooperatif
Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Kelompok.
Bandung. Alfabeta

Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep,
Landasana, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
. Jakarta: Penerbit Kencana.

Kajian Pustaka Pedagogik

Related Post