Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Posted on

Teori Perkembangan
Kognitif Piaget
Interaksi sosial yang terjadi
pada saat berdiskusi dan berargumentasi dengan individu sebaya akan membantu
memperjelas pemikiran yang pada akhirnya

menjadikan pemikiran tersebut menjadi
lebih logis. Interaksi yang terjadi akan membentuk pengalaman-pengalaman fisik
dan manipulasi lingkungan penting bagi perubahan perkembangan. Teori
perkembangan Piaget mewakili konstriktivisme yang memandang perkembangan
kognitif merupakan proses untuk membangun pemahaman melalui pengalaman dan
interaksi yang terjadi (Trianto, 2010:29).

Piaget adalah seorang tokoh
psikologi yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar
kognitif lainnya. Perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu
suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem
syaraf. Bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel
syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Individu yang sedang
berkembang menuju kedewasaan akan mengalami adaptasi biologis dengan
lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di
dalam struktur kognitifnya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai
sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Daya pikir atau kekuatan
mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif (Budiningsih,
2005: 37).
Menurut Budiningsih (2005:
37-39), Piaget
membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat.
Tahap-tahap perkembangan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Tahap-tahap
Perkembangan Kognitif Piaget

Tahap
Usia
Ciri-ciri perkembangan
Sensorimotor
0 – 2 tahun
Pertumbuhan
kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana.
Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi
langkah.
Praoperasional
2-7/8
tahun
Ciri pokok perkembangan
pada tahap ini adalah pada penggunaan simbol atau bahasa tanda, dan mulai
berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu
preoperasional dan intuitif. Preoperasional (umur 2-4 tahun), anak telah
mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsepnya, walaupun masih sangat
sederhana. Tahap intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun), anak telah dapat
memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak. Kesimpulan
yang diambil sering tidak diungkapkan dengan kata-kata, oleh sebab itu, pada
usia ini anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama
bagi mereka yang memiliki pengalaman yang luas.
Operasi konkret
7 atau 8-11 atau 12 tahun
Ciri
pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan
aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak sudah memiliki kecakapan logis,
akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret.
Operasi formal
11/
12-18 tahun
Ciri pokok perkembangan
pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan
menggunakan pola berpikir “kemungkinan”.
            (Sumber : Budiningsih, 2005: 37-39)
Kegiatan
pembelajaran harus melibatkan partisipasi peserta didik. Pengetahuan tidak
hanya sekedar dipindahkan secara verbal tetapi harus dikontruksi dan direkontruksi
peserta didik. Proses rekonstruksi kegiatan pembelajaran yang dilakukan harus bersifat
aktif sehingga peserta didik dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran dan
dapat memiliki pengetahuan secara utuh. Pembelajaran kooperatif adalah sebuah
model pembelajaran aktif dan parsitipatif (Isjoni, 2009:37).
Perkembangan
kognitif setiap orang bergantung seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan
aktif berinteraksi dengan lingkungannya (Trianto, 2010:30). Implikasi dalam
model pembelajaran dari teori Piaget antara lain: (1) Memusatkan perhatian pada
pemikiran atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasil yang dicapai.
Pembelajaran tidak hanya menilai dari aspek kognitif namun juga pada aspek
psikomotorik siswa, (2) Memperhatikan keterlibatan anak yang aktif dalam
kegiatan pembelajaran, dalam hal ini penyajian pengetahuan jadi tidak
mendapatkan penekanan, melainkan anak didorong menemukan sendiri pengetahuannya
melalui interaksi dengan lingkungannya sehingga guru dituntut untuk
mempersiapkan berbagai kegiatan yang memungkinkan anak untuk melakukan interaksi
langsung dengan dunia fisik, (3) Menekankan adanya perbedaan dalam perkembangan
anak. Menurut teori Piaget seluruh siswa melalui tahap perkembangan yang sama
namun kecepatan perkembangan tiap masing-masing anak berbeda satu sama lainnya.

Implikasi
dalam proses pembelajaran melalui perkenalan informasi yang melibatkan siswa
aktif menggunakan konsep-konsep dan memberikan waktu yang cukup untuk menemukan
ide-ide dengan menggunakan pola berpikir formal.


Budiningsih. A. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT
Rineka Cipta.